Bismilahirramanirrahim
(Tulisan lepas saya. Dibilang lepas karena: gak direview lagi, he.)
Assalamu’alaykum wr.wb! (3x)
He
Alhamdulillah ^_^. Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Hmm…
Sudah tahukah kita bahwa menjadi seorang muslim itu adalah sebuah pemberian Allah yang luar bisa sekali? Jika tahu, apa alasanmu? (Silahkan ditulis di comment ^_^).
Ya, sungguh beruntung mereka yang telah beriman kepada Allah hingga hari ini. Kenapa? Karena semua kebaikan yang dilakukannya sudah dinilai ibadah sejak niat terbesit. Selain itu, ketika kita mendapatkan banyak sekali kebaikan maka kita bersyukur dan itu dinilai ibadah juga. Ketika mendapatkan kesulitan, maka kita bersabar. Dan itu kebaikan (ibadah) pula!
Coba cari kondisi dimana seorang muslim yang bersyukur dan bersabar merupakan hal yang tidak baik? ^_^. G ada.
Oya, pernah mendengar istilah anumerta? Kalau belum tahu, anumerta adalah gelar (lebih tinggi) yang diberikan disaat si empunya sudah wafat. Nah sebagai seorang muslim, kita harus mampu menjadi si empu tadi yang menyabet gelar anumerta. Paham? Begini, ketika kita berjuang mengarungi kehidupan maka berikanlah manfaat bagi orang lain sebanyak mungkin. Tidak mudah? Ya, memang karena sifat dasar manusia adalah egois atau mementingkan dirinya sendiri. Tapi, tenang saja, karena segala kebaikan yang tidak mudah insyaAllah akan Allah ganjar dengan pahala-pahalanya.
"Dimanapun kita berada, selalu menjadi no 1 lah dalam berbuat kebaikan" (APA). Seperti teori Ekonomi, jadilah leader bukan follower dalam membangun bisnis. Karena, leader memiliki peluang lebih besar dibanding follower untuk menguasai pangsa pasar. Begitu juga dengan berbuat kebaikan, kalau ada orang yang melihat kebaikan kita dan ia melakukannya, amal jariyah kita dapatkan.
Begini saudaraku, untuk memperoleh gelar apapun itu ada yang gampang dan ada yang susah. Tapi intinya satu, proses. Orang yang bersabar akan proses yang ia jalani tanpa ia sadari akan membawa dirinya ke lembah kesuksesan ^_^. Coba liat orang-orang yang sukses didunia ini, setidaknya ada 2 hal yang mereka lakukan:
1. Setiap pekerjaan dilakukan dengan tekun dan sabar, plus fokus
2. Tidurnya mereka itu sedikit sekali dalam 1 hari. Kurang dari 4 jam. (Kebanyakan mereka, muslim atau bukan, meniru tidurnya Rasulullah. Kalau muslim meniru, dinilai ibadah. Alhamdulillah)
Bandingkan dengan kita, berani? Yang berani tolong isi comment dibawah dengan keadaan dirinya hehe ^_^. Ya, begitulah keadaan mereka.
Gelar anumerta diberikan oleh negara kepada orang yang diaanggap jasanya sangat besar sekali. Ketika hidup, ya, mereka sudah dapat gelar tersendiri. Tapi, setelah meninggal dunia, negara menyempatkan diri untuk berpikir ulang, “apakah ia hanya mendapatkan gelar ini? Perjuangannya yang begitu besar, sepertinya harus diganjar dengan gelar yang lebih baik.” (mungkin begitulah dialog hati mereka/yang berwenang, he).
Ya, mungkin itu juga bisa menjelaskan maksud dari sebuah doa yang sering kita ucapkan “Ya Allah, panjangkanlah usia Kami, ,,,,,”. Bukan berarti, jika takdir usia kita hanya hingga 63 terus Allah tambahkan menjadi 93 atau 124. Tidak begitu. Tetapi, Allah panjangkan ingatan dan kuatkan ingatan penduduk dunia ini, untuk nama dan perjuangan kita.
Jujur, mau jadi orang yang ketika hidupnya heboh dengan berbagai gelar, prestasi, dan kenikmatan terus dilupakan orang ketika kita telah meninggal dunia. Atau, menjadi orang yang hidupnya penuh prestasi dan kebaikan, dan ketika kita meninggal, banyak sekali orang yang mengingat nama kita?
Jadikanlah, Rasulullah sebagai teladan kita.
“1 hal, hanya niat yang ikhlas untuk beribadah kepada Allah sajalah yang akan memperoleh hal itu. InsyaAllah.”
Semoga Allah berikan kepada kalian semua banyak kebaikan. Aamiin
Waslm
Achmad Putra Andhika
^_^
Minggu, 29 Agustus 2010
Anumerta dan Panjang Umur versi Achmad Putra Andhika
Jumat, 18 Juni 2010
Antara Shalat dan Disiplin
Assalamu'alaykum wr.wb
Bismillah,
Alhamdulillah, Maha Suci Allah yang memegang jiwa-jiwa kita.
Nabi Muhammad, sang suri tauladan sejati. Semua perilakunya selalu menentramkan para anggota keluarga, tetangga, sahabat, dan orang-orang yang dikenal maupun tak dikenal.
Dunia ini begitu indah
Karena saling berbagi, telah menjadi kebiasaan
Dunia ini begitu tentram
Karena tolong menolong, telah menjadi kesadaran
Dunia ini begitu nyaman
Karena nasehat-menasehati, hadir tanpa diminta
Hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam melakukan pekerjaannya. Bahkan, Allah mengajarkan kepada kita agar selalu menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama. Ia memberikan perintahnya dalam contoh nyata, shalat berjamaah. Allah Subhanallahu wa Ta’ala banyak menyebut kata “shalat” dalam Al Qur’anul Karim. Ini mengingatkan bahwa begitu penting perkara ini.
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”(QS. Al Baqarah: 43)
Konsekuensinya yaitu pahala yang kita peroleh lebih tinggi 27 derajat dibanding orang yang shalat sendirian. Dalam ketaatan melaksanakan shalat secara berjamaah, kita harus sadar bahwa beberapa keteladanan sedang berjalan. Beberapa teladan itu antara lain:
1. Shalat tepat waktu. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa memenuhi panggilah Ilahi Rabbi tepat pada waktunya. Dibutuhkan perjuangan besar untuk meninggalkan segala hal yang sedang dilakukan. Karena itulah, manusia membutuhkan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang jauh lebih bermanfaat. Selain itu, waktu yang dimiliki akan semakin teroptimalkan jika kita tetap istiqomah untuk selalu hadir tepat waktu. Apapun acaranya, keistiqomahan itu akan membawa manfaat yang luar biasa besar bagi diri sendiri dan orang lain. Perlu diketahu, bahkan ada sebagian orang yang menunggu waktu shalat tiba. Subhanallah, doa-doa para malaikat insyaAllah ia dapatkan.
2. Sangat mematuhi imam shalat. Beberapa orang mungkin tidak mengetahui dasar kepatuhannya terhadap imam, tapi ia meyakini bahwa sebuah keharusan gerakan shalat seorang imam harus diikuti, bacaannya didengarkan, doa nya diaminkan, dan sebagainya. Salah satu dalil yang bisa kita temukan atas keharusan mengikuti gerakan imam adalah:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda, "Tidakkah salah seorang dari kalian takut atau hendaklah salah seorang dari kalian takut apabila ia mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah akan merubah rupanya menjadi rupa keledai."(1)
Kepatuhan terhadap pemimpin yang masih tetap menjaga keistiqomahannya dalam menjalankan syariat Allah merupakan hal yang wajib untuk dilakukan. Segala bentuk pergerakan akan mencapai tujuan hanya dan hanya jika komando pergerakan berada hanya pada pemimpin. Segala tindakan akan terintegrasi karena semua berpusat pada pemimpin pergerakan.
3. Ketenangan dan ketentraman. Setelah selesai shalat, terdapat sebagian orang mengulurkan tangannya agar bisa menjabat tangan saudaranya. Kerendahan hatilah yang tampil dibelakang hal ini. Bukan sebuah hal mudah untuk memulai mengulurkan tangan. Harus diakui, hal ini bukanlah sebuah kewajiban tetapi bukan pula sesuatu yang wajib kita hindarkan bahkan kita jauhi sejauh-jauhnya. Dan sangat sering kita mendapatkan hal positif darinya, jabangan tangan yang kita lakukan melahirkan sebuah senyuman yang menentramkan hati saudaranya
Seandainya kita telusuri lebih jauh, banyak tindakan yang kita lakukan ketika shalat, adalah hal-hal yang sangat baik bagi kesehatan, pola hidup, pola pikir, dan sebagainya. Ada sebuah kata yang saya rasa sangat cocok untuk menggambarkan orang yang mendirikan shalat berjamaah secara sempurna ini. Orang yang mampu menjaga untuk tetap melaksanakannya secara tepat waktu. DISIPLIN.
Orang-orang yang selalu menghadiri shalat pada waktunya dan melaksanakannya secara berjama’ah pastilah orang yang telah membiasakan dirinya untuk melakukannya. Kedisiplinan itulah yang membuat aktivitas shalat tepat waktu dan berjamaah, telah masuk ke alam bawah sadarnya. Kita bisa mengambil contoh lain untuk menjelaskan hal ini, misalnya sebagai berikut:
Kita tentu bisa mengendarai motor, bukan? (Aamiin). Saat ini, kita telah mengetahui dimana rem, gas, gigi, lampu sen, dan sebagainya berada. Ketika mengendarainya, secara otomatis kita mengombinasikan kesemua fitur yang ada pada motor secara baik dan sempurna hingga seberapa jauh pun jaraknya dapat ditempuh. Padahal, dulu kita begitu susah mengendarainya bahkan untuk jarak 5 meter saja! Apakah kita tahu kenapa sekarang hal itu bisa terjadi? Karena kita telah melakukan sebuah aktifitas berulang-ulang, sebuah aktifitas yang akhirnya telah merasuk ke alam bawah sadar kita. Ya, segala sesuatu akan dapat kita lakukan dengan baik jika dan hanya jika telah merasuk ke alam bawah sadar. Dan untuk memasukkan sesuatu ke alam bawah sadar kita, hanya ada satu cara yang dapat dilakukan yaitu: pengulangan dan pengulangan aktivitas secara terus menerus.
Kedisiplinan yang telah kita terapkan dalam melaksanakan shalat, akan semakin bermanfaat apabila dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Memang bukan hal yang mudah, karena terkadang kita dapat melakukan sebuah kebaikan di suatu tempat tapi belum tentu bisa melakukannya di tempat lain. Namun, itulah salah satu sumber kemuliaan manusia. Keistiqomahan yang mampu kita jalankan untuk dapat hidup disiplin akan membentuk pribadi yang unggul dan berkualitas dalam masyarakat bahkan umat Rasulullah, insyaAllah.
Achmad Putra Andhika
Jakarta, 2010
Dalam proses belajar menulis
Mohon masukannya
1 Beberapa ahli ilmu berpendapat maksud perubahan di sini adalah perubahan majazi, maksudnya menjadikan pelakunya bodoh seperti keledai. Karena keledai memiliki sifat bodoh. Sekiranya perubahan di sini adalah perubahan hakiki tentunya sudah banyak terjadi karena banyaknya orang yang melakukan seperti itu. Namun pendapat itu perlu diteliti lebih lanjut, karena terkadang ancaman itu benar-benar terjadi sekarang dan kadangkala tidak terjadi sekarang. Hanya saja hadits tersebut menyebutkan banwa barangsiapa melakukannya, maka terancam mendapat hukuman seperti itu. Dalam hadits Abu Malik al-Asy'ari tentang pengharaman alat-alat musik telah disebutkan bakal terjadinya al-maskh (perubahan bentuk menjadi hewan karena kutukan) di kalangan ummat ini. (Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah)
Senin, 07 Juni 2010
Kondisi Periklanan di Indonesia
Ketua Umum PPPI Harris Thajeb menargetkan pendapatan industri periklanan tahun 2010 naik 10% sampai 15% dibandingkan realisasi 2009. Yaitu dari angka Rp 56 triliun menjadi Rp 61,6 triliun sampai Rp 64,4 triliun. Hal ini berkaitan dengan tingginya masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di depan televisi. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 4.3 jam sehari untuk menonton TV, lebih tinggi dibanding AS yang hanya 4 jam.
Berkaitan dengan hal diatas, Milton Chen, Ph.D., seorang pakar pertelevisian anak-anak di Amerika, memaparkanbanyaknya waktu yang dilewatkan anak-anak Amerika untuk menonton TV. Rata-rata mereka menonton selama 4 jam dalam sehari, 28 jam seminggu, 1.400 jam setahun, atau sekitar 18.000 jam ketika seorang anak lulus sekolah menengah atas. Padahal waktu yang dibutuhkan anak untuk menyelesaikan pendidikan mulai dari TK hingga 3 SMU adalah 13.000 jam. Kesimpulannya adalah bahwa anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi dibandingkan dengan kegiatan apapun lainnya, kecuali tidur. Penelitian ini sekalipun dilakukan di Amerika, perlulah kita perhatikan. Kenyataan bahwa anak menonton televisi dan film lebih banyak dibanding aktivitas lain yang mereka lakukan tidak hanya terjadi di Amerika, melainkan juga di Indonesia (4,3 jam sehari). Perlu diketahui bahwa, proporsi tayang iklan dalam satu hari siaran di TV mencapai angka 30% bahkan lebih. Jika kita kalkulasi, maka akan didapatkan angka 4.200 jam setahun. Oleh karena itulah, sebagian besar pengamat pertelevisian di Indonesia menjuluki TV sebagai “Guru bertombol di rumah”. Saya pun menyimpulkan bahwa, 30% materi yang disampaikan oleh “Guru Bertombol” itu adalah iklan.
Saat ini, kita dapat melihat secara jelas sekali bahwa sebagian besar iklan di TV mengeksploitasi kaum perempuan. Menggunakan perempuan sebagai barang komoditi yang ditampilkan dalam iklan bukan hal baru. Menjual produk televisi, mobil atau kulkas dengan menggunakan perempuan cantik, ramping, seksi dan berpose dengan gaya sensual seperti iklan untuk produk TV sanken yang menampilkan perempuan muda yang tidur telentang di atas lantai dengan pose “yang anda pun tentu tahu”. Jauh disebelah kanannya ada TV Sanken. Timbul pertanyaan di sini, menjual TV atau seksual?
Berkaitan dengan tata krama beriklan, ada 3 kasus iklan TV lainnya yang bisa kita jadikan contoh. Tiga iklan yang tayang di televisi yaitu iklan Shinyoku "Romy Rafael", iklan So Nice "So Good", dan Iklan Betadine Feminim Hygines "Fakta Bicara" oleh Badan Pengawasan Periklanan, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) diputuskan melanggar Etika Pariwara Indonesia (EPI). Keputusan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Periklanan (BPP) PPPI telah disampaikan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.
Untuk iklan TV Shinyoku versi Romy Rafael, pelanggaran EPI yang ditemukan adalah penayangan pernyataan superlatif di dalam iklan tersebut berupa yaitu: "paling terang, paling hemat, dan paling kuat." Pernyataan superlatif di dalam iklan melanggar EPI BAB IIIA No. 1.2.2 yang menyatakan bahwa: " Iklan tidak boleh menggunakan kata-kata superlatif seperti "paling", "nomor satu", "top, atau kata-kata berawalan "ter" dan atau yang bermakna sama, tanpa secara khas menjelaskan keunggulan tersebut yang harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dan otoritas terkait atau sumber yang otentik."
Pada iklan TV So Nice "So Good", pelanggaran EPI terjadi pada pernyataan bahwa mereka yang mengkonsumsi produk yang diiklankan akan tumbuh lebih tinggi daripada yang tidak. Menurut EPI BAB IIIA No. 1.7 menyatakan bahwa: "Jika suatu iklan mencantumkan garansi atau jaminan atas mutu suatu produk, maka dasar-dasar jaminannya harus dapat dipertanggungjawabkan."
Sedangkan untuk iklan TV Betadine Feminim Hygines "Fakta Bicara", berpotensi melanggar EPI karena ditayangkan di luar klasifkasi jam tayang dewasa. EPI yang dilanggar adalah BAB IIIA No. 4.3.1, yaitu "produk khusus orang dewasa hanya boleh disiarkan mulai pukul 21.30 hingga 05.00 waktu setempat", selain itu juga EPI BAB IIIA No. 2.8.2 yang menjelaskan bahwa: "produk-produk yang bersifat intim harus ditayangkan pada waktu penyiaran yang khusus untuk orang dewasa."
Jika kita meneliti lebih dalam lagi, besar kemungkinan kasus-kasus pelanggaran etika beriklan yang belum diketahui akan terungkap. Namun, semakin banyak dan biasa pelanggaran etika beriklan dilakukan dan hal ini telah dianggap menjadi sesuatu yang biasa. Padahal, terdampak dampak negatif yang begitu besar dibalik semua pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Gambar atau visual adalah bagian yang terpenting bagi televisi, sehingga pemilihannya pun tidak pernah lepas dari jeratan etika.
Akhir-akhir ini kita semakin dibuat resah dengan munculnya gambar-gambar vulgar dan brutar di televisi. Seperti konsep tradisional tentang news value yang mengatakan bahwa bad news is a good news. Tiap hari kita disuguhi oleh adegan pemukukan di berita, adegan seks, atau gambar mayat yang tergeletak dengan kondisi sangat mengenaskan. Meskipun pada beberapa bagian gambar-gambar tersebut diblur, namun tayangannya tetap saja membawa imajinasi negatif bagi mereka yang melihat. Praktek media massa inilah disebut utilitarianisme, dimana media massa ini mendasarkan pada pendekatan dimana media menayangkan gambar dan naskah tanpa mempertimbangkan efek bagi obyek maupun masyarakat. Berbeda dengan pendekatan emas (gold) yang lebih mempertimbangkan secara detail tentang efek yang ditimbulkan dari pemberitaan baik bagi subyek berita maupun pembacanya.
Dengan kondisi seperti saat ini, peran Komisi Penyiaran Indonesia semakin diperlukan dan telah menjadi hal vital dalam perkembangan kebudayaan Indonesia kedepannya. Kita tak dapat pungkiri lagi bahwa TV telah menjadi salah satu media yang sangat efektif dalam penyebaran budaya di Indonesia.
Achmad Putra Andhika
Jakarta, 2010
Referensi
http://faizal.student.umm.ac.id/2010/05/04/tata-krama-dan-tata-cara-periklanan-indonesia/
http://teguhimawan.blogspot.com/2010/03/tiga-iklan-tv-melanggar-etika-pariwara.html
http://c3i.sabda.org/mewaspadai_guru_bertombol_tv_0
http://www.rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8:news3&catid=21:artikel&Itemid=313
Sabtu, 26 Desember 2009
Keajaiban Akhir Zaman
Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini.
Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka. Di antaranya:
Bila seorang pengusaha atau pejabat tinggi melakukan korupsi milyaran dan bahkan triliunan rupiah, maka aparat penegak hukum dengan mudah mengatakan tidak ada bukti untuk menahan dan mengadilinya.
Namun, bila yang mencuri itu seorang nenek atau masyarakat bawah (lemah), dengan mudah dapat ditangkap, disidangkan dan diputuskan hukuman penjara, kendati mereka mengambil hanya satu buah semangka atau tiga buah kakau, mungkin saja karena lapar.
Bila ada orang atau kelompok dengan nyata-nyata merusak dan melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti Tuhan, Kitab Suci dan Rasulnya, di negeri-negeri Islam, maka orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan berpendapat, berekspresi dan menafsirkan agama.
Namun, bila ada khatib, ustazd atau masyarakat Muslim mengajak jamaah dan umat Islam untuk konsiten dengan ajaran agamanya, maka orang dengan mudah menuduhnya sebabai khatib, penceramah atau ustazd yang keras dan tidak bisa berdakwah dengan hikmah, bahkan perlu dicurigai sebagai calon teroris.
Apa saja yang dituliskan dalam koran, dengan mudah orang mempercayainya, kendati itu hanya tulisan manusia dan belum teruji kebenarannya. Membaca dan mempelajarinya dianggap lambang kemajuan.
Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an belum tentu dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah (Ucapan Allah) yang mustahil berbohong. Kebenarannya sudah teruji sepnajang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan mengajarkan Al-Qur’an bisa mengajarkan paham terorisme.
Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan bangga dengan sistem hidup ciptaan manusia (jahiliyah), kendati sistem yang mereka yakini dan banggakan itu menyebabkan hidup mereka kacau dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah jalan hidup yang sesuai dengan akhir zaman.
Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa Islam itu diciptakan oleh Tuhan Pencipta mereka (Allah) untuk keselamatan dunia dan akhirat dan Allah itu mustahil keliru dan menzalimi hamba-Nya.
Ketika seorang Yahudi atau agama lain memanjangkan jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya.
Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang menuduhnya fundamentalis atau teroris yang selalu harus dicurigai, khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel dan sebagainya
Ketika seorang Biarawati memakai pakaian yang menutup kepala dan tubuhnya dengan rapih, orang akan mengatakan bahwa sang Biarawati telah menghadiahkan dirinya untuk Tuhan-nya.
Namun, bila wanita Muslimah menutup auratnya dengan jilbab atau hijab, maka orang akan menuduh mereka terbelakang dan tidak sesuai dengan zaman, padahal mereka yang menuduh itu, para penganut paham demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan masing-masing.
Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi kepentingan rumah tangga dan keluarganya.
Namun, bila wanita Muslimah tingal di rumah menjaga harta suami, merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya terjajah dan harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka katakan dengan kesetaraan gender.
Setiap mahasiswi Barat bebas ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan itu adalah hak asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri
Namun, bila wanita Muslimah ke kampus atau ke tempat kerja dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya eksklusif dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma kampus atau tempat kerja mereka.
Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat, kecerdasan dan kreativitas sang anak.
Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis agamanya, maka orang akan mengatakan bahwa pola pendidikan seperti itu tidak punya harapan dan masa depan
Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh seseorang, atau melakukan agresi ke negeri Islam khususnya di Paestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama mereka. Bahkan mereka mengakatakan itu adalah hak mereka dan demi menyelamatkan masyarakat Muslim di sana.
Akan tetapi, bila kaum Muslim melawan agresi Yahudi atas Palestina, atau Amerika Kristen di Irak dan Afghanistan, mereka pasti mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai pemberontak dan teroris
Bila seseorang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, maka semua orang akan memujinya dan berhak mendapatkan penghormatan.
Namun, bila orang Palestina melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya atau orang tuanya dari penculikan dan pembantaian tentara Israel, atau menyelamatkan rumahnya dari kehancuran serangan roket-roket Israel, atau memperjuangkan masjid dan kitab sucinya dari penodaan pasukan Yahudi, orang akan menuduhnya TERORIS. Kenapa? Karena dia adalah seorang Muslim.
Bila anak-anak Yahudi diajarkan perang dan senjata otomatis untuk membunuh kaum Muslimin Palestina, maka orang akan menegatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya membela diri kendati mereka adalah agresor
Namun, bila anak Palestina belajar melemparkan batu menghadapi prajurit Yahudi yang dilengakapi dengan tank dan senjata canggih lainhya saat menghancurkan rumah, masjid dan kampung mereka, maka orang akan menuduh mereka sebagai pelaku kejahatan yang pantas ditangkap, dipatahkan tangannya dan dipenjarakan belasan tahun.
Nah, inilah sekelumit keajaiaban manusia di akhir zaman ini. Bisakah kita mendapatkan pelajaran yang baik sehingga dapat menentukan sikap yang benar, atau kita akan jatuh menjadi korban keajaiban akhir zaman? Allahul musta’an…
source : eramuslim.com
Senin, 21 Desember 2009
Syukur Mengubah Hidup
Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.
Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.
1. Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
2. Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.
Lalu apa manfaat Feeling Good?
* Jika Anda yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan Anda menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
* Motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif (dibahas lebih lanjut pada ebook saya Motivasi Diri). Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
* Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.
Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.
Cara Meningkatkan Syukur
Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.
* Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
* Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
* Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.
Sudahkah kita bersyukur hari ini?
Sumber Artikel : Motivasi-islami.com
Rabu, 16 Desember 2009
Hati-Hati Membicarakan Orang Lain
Membicarakan aib orang lain atau ghibah telah Allah haramkan secara jelas dan tegas di dalam kitab-Nya dan melalui lisan rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat:12)
Penjelasan tentang hakikat ghibah telah disebutkan di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yaitu,
"Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka (untuk diungkapkan)." (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengharamkan kehormatan seorang mukmin dan mengaitkannya dengan hari Arafah, bulan haram, dan tanah haram. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negri kalian ini. Ingat! Bukankah aku telah menyampaikan?" (HR Muslim).
Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan dengan sangat tegas bahwa membicarakan aib dan kehormatan seorang mukmin itu lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang menikahi ibunya sendiri. Diriwayatkan dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Riba itu mempunyai tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti seseorang yang menikahi ibunya. Dan riba yang paling besar yakni seseorang yang berlama-lama membicarakan kehormatan saudaranya." (Silsilah ash-Shahihah no. 1871)
Di dalam sebuah potongan hadist, riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah subhanahu wata’ala akan mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik diri dari ucapannya (melakukan sesuatu yang dapat membebaskannya).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim, disetujui oleh adz-Dzahabi, lihat Silsilah ash-Shahihah no. 437)
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Ghanam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
"Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang jika dilihat (menjadi perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah adalah orang yang berjalan dengan mengadu domba, memecah belah antara orang-orang yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang baik.” (HR. Ahmad 4/227, periksa juga kitab "Hashaid al-Alsun" hal. 68)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka. Karena siapa saja yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti Allah ungkapkan, meskipun dia berada di dalam rumahnya." (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200)
Para salaf adalah orang yang sangat menjauhi ghibah dan takut jika terjerumus melakukan hal itu. Di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dia berkata, "Aku mendengar Abu ‘Ashim berkata, "Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak berani menggunjing orang sama sekali." (at-Tarikh al-Kabir (4/336)
Al-Imam al-Bukhari mengatakan, "Aku berharap untuk bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala dan Dia tidak menghisab saya sebagai seorang yang telah berbuat ghibah terhadap orang lain."
Imam Adz-Dzahabi berkomentar, "Benarlah apa yang beliau katakan, siapa yang melihat ucapan beliau di dalam jarh dan ta'dil (menyatakan cacat dan jujurnya seorang perawi) maka akan tahu kehati-hatian beliau di dalam membicarakan orang lain, dan sikap inshaf (obyektif) beliau di dalam mendhaifkan/melemahkan seseorang.
Lebih lanjut beliau (adz-Dzahabi) mengatakan, "Apabila aku (Imam al-Bukhari) berkata si Fulan dalam haditsnya ada catatan, dan dia diduga seorang yang lemah hafalannya, maka inilah yang dimaksudkan dengan ucapan beliau "Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menghisab saya sebagai orang yang melakukan ghibah terhadap orang lain." Dan ini merupakan salah satu dari puncak sikap wara'. (Siyar A'lam an -Nubala' 12/439)
Beliau juga mengatakan, "Aku tidak menggunjing seseorang sama sekali semenjak aku ketahui bahwa ghibah itu berbahaya bagi pelakunya." (Siyar a'lam an-Nubala' 12/441)
Para salaf apabila terlanjur menggunjing orang lain, maka mereka langsung melakukan introspeksi diri. Ibnu Wahab pernah berkata, "Aku bernadzar apabila suatu ketika menggunjing seseorang maka aku akan berpuasa satu hari. Aku pun berusaha keras untuk menahan diri, tetapi suatu ketika aku menggunjing, maka aku pun berpuasa. Maka aku berniat apabila menggunjing seseorang, aku akan bersedekah dengan satu dirham dan karena sayang terhadap dirham, maka aku pun meninggalkan ghibah."
Berkata imam adz-Dzahabi, "Demikianlah kondisi para ulama, dan itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat." (Siyar: 9/228)
Bahkan seorang yang melakukan ghibah pada hakikatnya sedang memberikan kebaikannya kepada orang lain yang dia gunjing. Bahkan Abdur Rahman bin Mahdi berkata, "Andaikan aku tidak benci karena bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka tentu aku berharap tidak ada seorang pun di Mesir, ini kecuali aku menggunjingnya, yakni karena dengan itu seseorang akan mendapatkan kebaikan di dalam catatan amalnya, padahal dia tidak melakukan sesuatu." (Siyar: 9/195)
Maka para aktivis dakwah di masa ini yang melakukan ghibah atau membicarakan aib saudaranya sesama muslim dengan alasan untuk meluruskan kesalahan dan demi kebaikan, alangkah baiknya sebelum membicarakan orang lain merenung kan beberapa masalah berikut:
Pertama; Apakah yang dia lakukan itu adalah ikhlas dan merupakan nasihat untuk Allah subhanahu wata’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin? Ataukah merupakan dorongan hawa nafsu baik tersembunyi atau terang-terangan? Atukah itu merupakan hasad dan kebencian terhadap orang yang dia gunjing?
Memperjelas apa latar belakang yang mendorong untuk membicarakan orang lain sangatlah penting. Sebab berapa banyak orang yang terjerumus ke dalam ghibah dan menggunjing orang lain karena dorongan nafsu tercela sebagaimana tersebut di atas. Lalu dia menyangka bahwa yang mendorong dirinya untuk menggunjing adalah karena menyampaikan nasehat dan menginginkan kebaikan.
Ini merupakan ketergelinciran jiwa yang sangat pelik, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, kecuali setelah merenung dan berpikir mendalam penuh rasa ikhlas dan murni karena Allah subhanahu wata’ala.
Ke dua; Harus dilihat dulu bentuk masalahnya ketika membicarakan aib seseorang, apakah merupakan hal-hal yang di situ memang dibolehkan untuk ghibah ataukah tidak?
Ke tiga; Renungkan berkali-kali sebelum mengeluarkan kata-kata untuk membicarakan orang lain; Apa jawaban yang saya sampaikan nanti di hadapan Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat jika Dia bertanya, "Wahai hamba-Ku si Fulan, mengapa engkau membicarakan si Fulan dengan ini dan ini?”
Hendaknya selalu ingat bahwa Allah subhanahu wata’ala telah berfirman,
“Dan ketahuilah bahwasannya Allah mengetahi apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 235)
Dan Ibnu Daqiq al-Ied juga telah berkata, "Kehormatan manusia merupakan salah satu jurang dari jurang jurang neraka yang para ahli hadits dan ahli hukum diam apabila telah berhadapan dengannya. (Thabaqat asy Syafi'iyyah al Kubra 2/18). Wallahu a’lam.
Sumber: “Manhaj Ahlussunnah fi an-Naqdi wal Hukmi ‘alal Akharin, hal 17-20, Hisyam bin Ismail ash-Shiini.
Minggu, 13 Desember 2009
Seminar & Mabit 1 Muharam 1431 H
TEMA MONUMENTAL!
MEMBANGUN PERADABAN ISLAM DENGAN KONSEPSI "JAM SYARIAH"
(Jam yang Melahirkan Mindset dan Paradigma Baru yang Mencerahkan)
SEMINAR JAM SYARIAH
"Sebuah pembuktian! berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist ternyata Islam memiliki konsepsi jam sendiri yaitu jam Islam/ Jam Hijriah. Dan hasil pengkajian membuktikan bahwa konsepsi jam islam terbukti jauh lebih baik dibanding jam konvesional"
Menghadirkan Pembicara Pakar :
1. Prof. Dr. Achmad Satori Ismail (IKADI)
2. Dr. Adian Husaini (MUI)
3. Dr. Ahmad Syakur Hanza (Ulama Fiqh)
4. Dr. Moedji Raharto (Astronom ITB)
5. E. Darmawan Abdullah Skd. (Pengkaji)
Imam Qiyamullail
Ust. Abdul Aziz, Lc, Al-Hafizh
Waktu dan Tempat
KAMIS MALAM JUM'AT, 1 MUHARRAM 1431 H/ 17 DESEMBER 2009
(Shalat Magrib Berjamaah)
MASJID AT-TAQWA, jl. Pasar minggu raya-Pejaten Jaksel
Berdakwah Dengan Hati
Dakwatuna.com - “Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS.:3:159)
Saudaraku, Sejarah telah memaparkan pancaran pesona akhlaq Rasulullah dalam perjuangan dakwah beliau sebagai suri teladan bagi kita (QS.:33:21). Kemudian Allah SWT menguatkan dengan firman-Nya “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim. Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang mulia.”(QS.:68:4). Tentunya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Rumusan nyata dan gamblang tentang model manusia terbaik. Maka siapa yang ingin berhasil dalam mengemban tugas dakwah sebagaimana Rasul, hendaklah mengikuti jejak langkah Rasulullah dan menerapkan akhlaq Rasulullah dalam segenap aktivitas kehidupannya.
Dulu sering kita jumpai keluhan-keluhan dan kekecewaan terhadap penanganan dakwah di kalangan para mutarobbi –binaan atau murid ngaji atau anggota tarbiyah-. Fenomena berjatuhannya para aktivis dakwah, ditambah lagi dengan ketidaksukaan mereka terhadap pola dakwah ternyata – menurut mereka – disebabkan karena seringnya mereka menerima perlakuan yang tidak bijaksana.
Jawaban sederhana dari permasalahan di atas boleh jadi karena ketidak utuhan kita dalam meneladani Rasul atau bahkan mungkin karena kita belum mampu menanamkan akhlaq Rasul pada diri mereka. Akibatnya kita sering tidak sabar dan tidak bijaksana menyikapi mereka, sementara merekapun terlalu mudah tersinggung dan cengeng menyikapi teguran dan nasihat yang mereka anggap sebagai pengekang kebebasan. Komunikasi yang tidak sehat ini sebenarnya bisa diatasi dengan menyadari sepenuh hati akan begitu pentingnya penanaman dan penerapan akhlaq Rasulullah dalam berbagai pendekatan dakwah. Ditinjau dari segi juru dakwah, keinginan meluruskan, teguran, penugasan, sindiran dan sebagainya sebenarnya dapat dikemas dengan akhlaq. Begitupun dari segi mad’u –peserta dakwah atau yang didakwahi- ; ketidakpuasan, ketersinggungan, perasaan terkekang dan kejenuhan juga dapat diredam dengan akhlaq. Akhlaq menuntun kepada kemampuan untuk saling menjaga perasaan, saling memaklumi kesalahan dan mengantarkan kepada penyelesaian terbaik.
Banyak murabbi –pembina atau yang mentarbiyah- yang dikecewakan dan ditinggalkan binaaanya, tapi dia mampu mengemas luka itu dengan empati dan terus mendoakan kebaikan bagi binaannya. Bahkan diiringi harapan suatu saat Allah swt. mengembalikan binaannya dalam aktvitas dakwah, walaupun mungkin bukan dalam penanganannya. “Mungkin dengan saya tidak cocok, tapi semoga dengan murabbi lain cocok”. Ada mutarabbi yang diperlakukan tidak bijaksana oleh murabbinya namun akhlaq menuntunnya untuk mengerti dan menyadari bahwa murabbinya bukan nabi, sehingga dia tidak dendam dan menjelek-jelekkan murabbinya, melainkan tetap merasa bahwa murabbi dengan segala kekurangannya telah berjasa banyak padanya. Dia tidak membenci dakwah meskipun dia dikecewakan oleh seorang aktivis dakwah.
Di antara nilai-nilai akhlaq yang semuanya mesti kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah dua nilai yang cukup relevan dengan kelancaran dakwah, yaitu kelembutan dan rendah hati.
Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan maupun badan. Bukanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan.
Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan sadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabayyun, buruk sangka, ghibah, mendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.
Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya mendekatkan atau mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur atau menyapa lebih dulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati. Allah swt. berfirman dalam surah Asy Syu’araa ayat 215 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikuti kamu.”
Bila Rasulullah saw. saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarabbi dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan pada kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Al-Qur’an dan Hadist.
Saudaraku, Marilah kita lebih mengaplikasikan apa-apa yang sudah kita ketahui. Betapa pemahaman kita tentang pentingnya akhlak dalam mengantarkan pada kesuksesan dakwah mungkin sudah cukup mumpuni. Namun tinggal bagaimana kita terus meningkatkan penerapan nilai-nilai akhlaq itu dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam mengemban tugas dakwah. Telah dan akan terus terbukti bahwa sambutan masyarakat terhadap dakwah adalah di antaranya karena pesona akhlaq kita, kelembutan kita, memaklumi, mengingatkan dan meluruskan mereka dan kerendahhatian kita untuk terus bersabar mendekati dan menemani hari-hari mereka dengan dakwah kita. Dalam konteks khusus pun demikian, betapa kelembutan dan kerendahhatian ternyata lebih melanggengkan atau mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.
Saudaraku, Hendaknya dari hari ke hari kita terus mengevaluasi diri, membenahi akhlaq kita dan memantaskan diri (sepantas-pantasnya) sebagai seorang juru dakwah. Memang kita manusia biasa yang penuh salah dan kekurangan, namun janganlah itu menjadi penghalang kita untuk bermujahadah diri menuju kepada kedewasaan sejati. Masa lalu yang kasar dan angkuh hendaklah segera pupus dari diri kita. Kita mulai membiasakan diri untuk lembut di tengah keluarga, di antara aktivis dakwah hingga ke masyarakat luas. Kita mesti melatih kerendahhatian di tengah murid-murid kita, dengan sesama aktivis, pada murabbi kita hingga ke seluruh masyarakat. Dan pada akhirnya nanti insya Allah kita dapatkan keberhasilan dakwah Rasulullah terulang kembali, lewat hati, ucapan dan perbuatan kita yang telah diwarnai nilai-nilai akhlaq.
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125). Allahu a’lam
Rabu, 08 Juli 2009
52. Asal-Asalan Memilih Teman Baik
Banyakan diantara kita nggak peduli milih teman. Asal ada aja teman mainnya. Nggak peduli baik atau buruk. Padahal teman sangat mempengaruhi sifat-sifat dan karakter kita. Agama kita juga sangat dipengaruhi oleh teman. Udah sadar pa belum, kalo teman kita baik kita juga jadi baik nantinya. Coba kalo teman kita pemabuk sangat besar kemungkinan kita juga ikut-ikutan mabuk. Makanya kalo memilih teman diusahakan jangan dilakukan dengan asal-asalan.
Eh, teman, kalo kamu tanyakan sifat seseorang maka lihatlah temannya. Artinya siapa temannya, kalo temannya baik berarti dia juga baik (InsyaAllah). Nah, ada yang lebih penting yaitu kalo kalian pengen ngelamar gadis maka lihatlah siapa teman gaulnya. Selanjutnya kamu tanyakan dia pada teman dekatnya. Tapi kalo udah jahat teman dekatnya nggak usah ngelamar. Jangan-jangan dia juga orangnya nggak baik (Astghfirullah). Pokoknya udah tersangka deh. Jadi kesimpulannya, sifat teman gaul akan menular kepada kita. Coba aja liat haditsnya ini:
“Bahwasanya permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya atau kamu turut mendapatkan bau wanginya sedang tukang besi bisa membakar bajumu atau kamu ikut mendapatkan bau tak sedap.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa bergaul dengan orang-orang shaleh dan berakhlak mulia memiliki pengaruh pada kebaikan seseorang dan setiap teman akan mencontohi teman gaulnya. Sebaliknya bergaul dengan orang-orang hina dan jahat menjerumuskan pada kecelakaan manusia. Rasulullah memberikan dua permisalan yang gamblang untuk menjelaskan hal itu.
“Seseorang tergantung dari agama (kebiasaan) temannya maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman karib.” (HR. al-Tirmidzi)
Lebih parah lagi kali teman gaul non-muslim (Jadi teman akrab, mungkin itu maksudnya). Bisa aja kamu ditarik ke geraja (misionaris jelek!) atau kuil atau sinagog (Jews munafik!) dll. Soalnya da’wah mereka itu lebih kuat karena udah kerjasama dengan syaitan (mungkin maksudnya, mereka lebih mengedapankan logika, mengumbar hawa nafsu untuk menggoyang iman kita). Coba siapa yang kalian pilih diantara teman berikut ini: Ibrahim apa Abraham, Maryam apa Maria, Abu atau Obet, dll. Itu cuman misal.
“Janganlah engkau bersahabat kecuali orang beriman.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)
Singkatnya, kita harus milih teman yang baik, yang ngerti agama, yang pintar and cakap, de es te. Kalo nggak gitu pasti deh kita-kita nyesel banget di akhirat.
“Dan (Ingatlah) hari (Ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya (menyesal berat), seraya berkata: ‘ Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’.” (Qs: al-Furqan: 27)
Artikel Abu Syahidah dalam buku “Kamu Hobi tapi Agama Melarang” dengan sedikit perubahan
44. Tidak Beradab Ketika Masuk WC
Saudaraku seiman, WC tempatnya kotoran. Disana juga tinggal syetan dan jin. Banyakan orang kecelakaan di WC langsung bisa mati. Jadi kita harus hati-hati, kalo jatuh di WC bisa-bisa langsung dikubur (Innalillahi..). Banyakan juga orang menghayal di WC. Makanya kita harus perhatikan betul adab-adab masuk WC biar syaitannya lumpuh.
Gimana adab-adab yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kalo masuk WC? Ikuti berikut ini:
a. Disunahkan berdoa sebelum melangkah masuk WC. Ini doanya:
“Allahumma inni a’udzubikka minal khubutsi wal khabaits.” (Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan) .” (HR. Bukhari)
b. Disunahkan mendahulukan kaki kiri ketika masuk WC atau kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar.
c. Disunahkan ketika keluar dari tempat buang hajat ata WC berdoa: Gufranaka (Aku mohon ampunan-Mu)
“Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi apabila keluar dari kamar kecil berdoa: Gufranaka.” (HR. Turmudzi)
d. Jangan berdzikir dalam WC atau kamar mandi kecuali dzikir dalam hati saja.
Artikel Abu Syahidah dalam buku “Kamu Hobi tapi Agama Melarang” dengan sedikit perubahan.
38. BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH
Masalah ini juga sangat berbahaya sebab termasuk juga syirik. Makanya jangan asal bersumpah. Pokoknya deh, sumpah itu hanya untuk atas nama Allah SWT, jadi kita hanya boleh bilang : Demi Allah. Kalau dibahasa Arabkan menjadi : Lillahi, Wallahi, atau Tallahi. Kalau bersumpah dengan kata selain itu maka syirik (Astaghfirullah). Kalo nggak yakin gue nunjukin dalil mengenai hal tersebut, Ok!
“Siapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka ia telah syirik.” (HR. Ahmad)
Adakah sumpah muda-mudi yang menyebut selain dari nama Allah? Jawabannya, bbuanyaaaak sekali. Misalnya:
a. Demi langit dan bumi, aku bersumpah……………
b. Demi bangsa dan Negara……….
c. Demi amanah
d. Demi engkau yang kucintai………….
e. De el eL
Artikel Abu Syahidah dalam buku “Kamu Hobi tapi Agama Melarang” dengan sedikit perubahan.
Selasa, 07 Juli 2009
Selalu Ada Solusi
Oleh: Ibnu Jarir, Lcdakwatuna.com -Segala puji hanya bagi-Mu ya Allah, Engkau Maha memberi kemenangan bagi siapa saja hamba-Mu yang berjihad dijalan-Mu dan berkorban demi tegaknya kalimat-Mu dengan penuh kesabaran. Ya Allah…Ya Naashiru…tsabat kan kami dalam mengemban amanah Mu, ampuni kelemahan kami dan sikap kami yang melampaui batas…
Saudaraku…
“Huffatil jannatu bilmakarih wahuffatinnaaru bissyahawat…” surga dikitari oleh sesuatu yang tidak disukai oleh nafsu, sebaliknya neraka dihiasi dengan hal-hal yang memanjakan syahwat. Maka hanya hamba-hamba yang sadar surga saja yang mampu mengemban beban perjuangan dan pengorbanan untuk dakwah.
Saudaraku…
Setiap kita hendaknya bertanya pada diri ini, akan kejujuran perjuangan dan pengorbanan kita. Benarkah kita telah berjuang? Berjuang untuk apa dan siapa? Bersabarlah kita dalam perjuangan untuk tetap dalam manhaj-Nya? Untuk tidak tergoda oleh dunia? Atau terbujuk rayuan wanita? Atau terlena dengan tahta?
Saudaraku…
Sudahkah kita berkorban untuk taat? Berkorban untuk tegaknya nilai-nilai Dienullah? Berkorban untuk menghentikan atau meminimalisir kezhaliman? Berkorban untuk membantu saudara-saudara kita yang tertindas? Berkorban dalam dakwah di jalan-Nya? Berkorban untuk menyelamatkan moralitas anak-anak negeri ini? Berkorban…dan berkorban?
Saudaraku…
Betapa terngiangnya genderang kalimat Allah Swt di relung hati kita yang paling dalam, kita yang sadar, kita yang sensitif akan kebahagiaan, kita yang senantiasa merindukan surga, kita yang berharap untuk berjumpa dengan-Nya, kita yang merindukan untuk menatap wajah-Nya,”Am hasibtum ‘an tadkhulul jannah ?”… apakah kita mengira akan mendapat surga dengan begitu mudah?
Saudaraku…
Setelah kita cermati perjuangan dan pengorbanan kita dijalan Allah untuk tegaknya dakwah ini, kita menjadi tahu…, sadar…dan insaf…Ya Allah sesungguhnya kami belum berbuat apa-apa untuk Islam, kecuali sedikiiit..,ya Allah …janganlah Engkau hinakan kami…jangan Engkau azab kami, Ya Allah…ampuni kami…rahmati kami, karuniakan kekuatan kepada hamba-hamba-Mu ini ya Qowiyyu…, agar kami mampu bangkit memperbaiki kelemahan kami … untuk meraih kemenangan dari sisi-Mu…
Saudaraku…
Ingatkah kita akan perjuangan dan pengorbanan pemimpin kita yang agung: Muhammad Saw.? kala tekanan dan permusuhan mendera dirinya untuk sebuah risalah besar dakwah yang di emban nya, hampir-hampir tak sejengkal bumi Mekah yang bisa dipijaknya, sepulang dari Thaif tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Zaid bin Haritsah ra. terlontar; “Ya Rasulullah kaifa ta’uudu ila makkah waqod akhrojuuka? ( ya Rasulullah bagaimana engkau akan kembali ke Mekah sedang mereka telah mengusirmu? ) Jawab Rasulullah saw. dengan pemberian harapan besar pada kita dan umat yang besar ini: “Ya Zaid Innallaha jaa’ilun limaa taroo farojan wamakhroja…” (wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang saat ini anda lihat, jalan keluar dan solusi…).
Saudaraku…
Semoga kemenangan itu dekat. Semoga kita adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi pelaksana kemenangan dakwah ini. Ya Allah ampunilah kelalaian kami, jadikanlah kami orang-orang yang siap berkorban apa saja untuk dakwah ini… amin.
Baca Selengkapnya......