ASSALAMU'ALAYKUM. SILAHKAN SURFING DI BLOG SAYA. SEMOGA BERKENAN! ^_^

Minggu, 10 Juli 2011

Ucapan juga Bagian dari Perubahan

“Lidah itu ibarat pedang. Jika tidak digunakan dengan baik dan benar,
maka ia bisa melukai siapapun termasuk diri sendiri.”

Alangkah indahnya, jika kita sebagai makhluk Allah SWT saling bertegur sapa sembari mengucapkan doa-doa pada saudaranya.

“Mas, Mbak, Assalamu’alaykum. Apa kabar? Semoga Allah selalu beri kemudahan ya ^_^”

Enggak gampang, tapi juga enggak susah. Tergantung bagaimana pribadi masing-masingnya, yang tidak mungkin bisa sama antara satu dan lainnya. Hanya saja, hal-hal di dunia ini bisa menjadi mudah jika kita memang sudah memiliki keyakinan yang kuat. InsyaAllah

Sahabat, untuk melakukan perubahan
memang bukan seperti membalikkan telapak tangan. Perlu usaha sungguh-sungguh. Tau prinsip 3 SA? Semoga bermanfaat ya, aamiin

1.dipakSA
2.terpakSA
3.terbiaSA

Coba dibaca sekali lagi, 3 prinsip itu ^_^.

Ya, saya yakin kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda berkaitan dengan prinsip itu. Kalau mau sharing, silahkan komen dibawah ini ^_^. Tapi kalau hanya ingin membaca tulisan saya, ya semoga hal ini bisa me-refresh kembali apa-apa yang pernah anda dapatkan, sahabatku ^_^

Dulu ada seseorang yang sangat jauh dari kegiatan-kegiatan majelis ilmu, dzikir, atau sejenisnya. Sempat ia bercerita, yang intinya seperti ini:

“Kalau saya enggak dapat amanah itu, enggak mungkin saya kenal dengan acara-acara seperti ini. Beneran, saya g biasa beginian. Tapi mau gimana lagi, saya punya tanggung jawab sebagai seorang yang diberi amanah. Kalau saya enggak datang, nanti anggota yang lain lebih g menghargai. Saya dapat amanah ini bukan kemauan saya lho! Tapi ya begitu, teman-teman sekelas dulu main tunjuk aje. Ya, gitu deh. Hehe. Tapi Alhamdulillah, gara-gara saya dipaksa maju, lalu dapat amanah dan akhirnya terpaksa datang ke acara ini dan itu, saya terbiasa untuk selalu hadir. Alhamdulillah. Saya suka sedih kalau g bisa menghadiri majelis ini dan itu, saya rindu itu. Pasti. Bla-bla-bla.”

Ada juga yang punya cerita seperti ini:

“Kalau seandainya dulu hidup saya enak, mungkin saya g bisa seperti sekarang ini. Alhamdulillah, karena kondisi saat itu yang memaksa saya untuk melakukan suatu hal, akhirnya saya bisa jadi salah satu pengusaha ini di Indonesia. Alhamdulillah.”
Banyak lagi kisah yang berkaitan dengan prinsip ini, 3 SA. Kita enggak pernah tau, apa yang Allah rencanakan untuk kita di hari-hari selanjutnya. Sahabatku, latihlah mulut kita untuk selalu mengucapkan “Alhamdulillah” pada kondisi yang kita terima saat itu. Sahabatku, ucapkanlah “Alhamdulillah” dan biasakanlah. Jadikan diri kita sebagai salah satu hambanya yang pandai bersyukur. Apapun kondisinya, percayalah Allah sangat mengetahui apa yang terbaik buat kita. Pasti!

Sahabatku, bukankah kita tahu kalimat berikut ini:

“Apa yang engkau ucapkan, itu adalah doa bagi dirimu sendiri. Maka, berhati-hatilah dalam berucap”

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Sahabatku, Allah pasti akan membantu perubahan yang ingin kita lakukan, asalkan kita tulus dalam melakukannya. Allah selalu membantu hamba-Nya yang ingin melakukan kebaikan demi kebaikan dalam hidupnya. Percayalah, Allah pasti kasih apa yang dibutuhkan dan yang terbaik bagi hamba-Nya yang bertakwa. InsyaAllah.

Semangat dalam melakukan perubahan menuju perbaikan, sahabatku!
Sukses selalu
^_^

jzk

Achmad Putra Andhika
Ahad, 23.50
Menteng Atas

Baca Selengkapnya......

Kamis, 23 Juni 2011

MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sedikit sharing, beberapa sifat positif yang bisa kita lakukan:

1.Ta’abuddi
Ta'abbudi artinya ialah ibadah yang tidak dapat dikorek-korek dengan akal mengapa dikerjakan demikian. Dalam bahasa lain, ta'abbudi adalah hukum yang tetap dan tidak pernah berubah oleh ijtihad, penalaran akal manusia, dan umumnya yang bersifat ta'abbudi terdapat dalam ibadah khususnya ibadah mahdlah (yang diperintahkan oleh Allah). Kita nggak pernah tau kenapa mesti shalat isya itu 4 rakaat, yang jelas ada perintahnya begitu. Ta’aqulli merupakan kebalikan dari arti ta’abuddi, seperti kita tahu bahwa menjalankan haji setidaknya sekali dalam seumur hidup tapi kita enggak tahu kenapa mesti melempar jumrah saat sudah disana.

2.Ta’ammul (Bekerja keras)
Apa ini perlu penjelasan? Sepertinya enggak ya, soalnya masing-masing kita memiliki aktivitas yang beragam. Hal ini bisa memberikan keragaman arti untuk kata “Ta’ammul”. Tapi, saya ingin menggarisbawahi bahwa Ta’ammul (bekerja keras) akan selalu memberikan perubahan kualitas hidup dari hari ke hari, atau bisa kita sebut “produktif”.

3.Takhalluq (Santun)
Silahkan pahami makna kalimat berikut, saudaraku ^_^:
“Orang yang kuat atau jagoan adalah orang yang tidak memiliki musuh”

4.Tabassum (Senyum selalu)
“Senyuuuum dooong hehe, senyum senyum” ^_^
Mudah kan?
Senyum adalah ibadah paling mudah yang bisa kita lakukan. Selain itu, orang yang lebih mudah tersenyum akan lebih awet muda ketimbang yang lebih suka cemberut. Ini dikarenakan semua otot-otot wajah bergerak saat tersenyum, tidak seperti cemberut yang hanya menggerakkan beberapa otot-otot wajah saja. Lihat surat ke-4 ayat 86 di Al-Qur’an deh.

5.Ta’awun (Tolong menolong)
Siapa yang bisa hidup sendiri? Anda bisa? Kalau bisa temui saya biar bisa didokumentasikan sebagai manusia teraneh di dunia. Saya juga akan rekomendasikan anda untuk masuk “Guinnes Book of Records” hehe.
G mungkinlah kita bisa hidup sendiri, wong saat baru lahir saja kita udah perlu orang lain. Jangan jadi manusia sombong, oke!

6.Taqorrub (Mendekatkan diri)
Pernah merasa enggak punya temen padahal disekeliling kita banyak orang-orang yang berkeliaran? Itu terjadi karena kita jauh dari Allah SWT. Na’udzubillah. Mari berdoa agar kita bisa selalu dekat dengan Allah, aamiin T_T. Lihat deh surat ke-96 ayat 19

7.Tafakkur (Berpikir jernih)
Pernahkan anda mengalami hal ini: “Ketika melihat sesuatu, terbayang suatu gambaran di kepala kita”. Orang yang berpikir jernih akan melihat sesuatu yang mengagumkan, seperti kebesaran Allah, peluang-peluang positif, manfaat, dan sebagainya. Bagaimana untuk dapat berpikir jernih? Tinggalkan maksiat, perbanyak baca Al-Qur’an dan beramal baik. Mari berdoa untuk kita semua T_T. Liat deh surat ke-30 ayat 8
Jika ada yang positf, maka selalu ada yang negatinf. Berikut beberapa sifat negative yang sering menjangkiti hati manusia. Saya enggak bakal memberikan penjelasan untuk sifat-sifat berikut. Untuk apa kita fokus untuk hal tersebut? Hehe, tapi untuk sekedar tahu ya bolehlah. Diantaranya:
1.Dengki
2.Ghodob (Kebencian)
3.Tajassus (Mencari-cari kesalahan orang lain)
4.Su’udzon (Berburuk sangka)
5.Ghibah (Menjelek-jelekkan orang lain)
6.Gholidzol Qolb (Keras hati)

Jangan ditambahin sama sifat negative lainnya, mending tambahin sifat positif yang sudah saya jelaskan diatas. Kita penuhi pikiran kita dengan hal-hal baik agar apa yang kita keluarkan dari jiwa kita, baik itu omongan, tindakan, dll, selalu baik. Aamiin

Semoga bermanfaat!
^_^


Jakarta, 24 Juni 2011
Ditulis dalam penantian akan hadirnya bidadari dari Allah SWT. Allah pasti memberikan yang terbaik bagi kita semua, aamiin
*Thanks to Ust. Muhamad Satiri, yang telah menginspirasi.

Baca Selengkapnya......

Senin, 20 Juni 2011

SEMUA ITU TERGANTUNG PILIHAN KITA

Perjalanan hidup adalah proses yang harus kita lewati untuk mencapai apa yang ingin Allah berikan kepada kita, surga. Benar begitu, bukan?

Hanya saja, tidak semua orang akan memahaminya. Dan, kita termasuk yang memahami makna kehidupan ini, bukan?

Terkadang, kita selalu memandang baik apa yang belum kita miliki. Terkadang pula kita sangat yakin dengan cara yang dilakukan orang lain. Tapi, saya yakin kalau kita merupakan hamba-Nya yang bersyukur. Benar bukan?

Ya Allah,

Mereka memang kaya, dan mereka yang lain memang miskin.
Mereka memang pintar, dan mereka yang lain memang bodoh
Mereka memang tampan dan cantik, dan mereka yang lain unik
Mereka memang berilmu, dan mereka yang lain tidak.
Dan yang lainnya 

Tapi, kita yakin bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik buat kita, bukan? Kita yakin bahwa Allah pasti memberikan yang kita butuhkan, bukan?

Ya Allah,

Maafkan hamba-Mu yang banyak bertanya ini,

Tapi, hamba sangat bercita-cita untuk tidak bertanya “Hamba akan mati dalam husnul khatimah, bukan?”

Ampuni kami, Ya Allah

Ampuni,,,
Astaghfirullah

Baca Selengkapnya......

Rabu, 08 Juni 2011

MENELITI KEMBALI AKTIVITAS KITA

“Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk hal-hal yang positif,
Allah akan berikan kemampuan manajemen yang baik”.

Allah menganugrahi Nabi Sulaiman AS dengan nikmat-nikmat yang luar biasa banyak. Allah anugrahi Ia kemampuan, tidak hanya untuk memimpin para manusia, tapi juga para jin, hewan, angin, dsb. Selain itu, Nabi pun memiliki ratusan istri yang menemaninya. Coba bayangkan, bagaimana Nabi bisa mengatur waktunya yang hanya 24 jam untuk semua itu? Wallahua’lam bishshawab.
Kembali lagi kepada kehidupan kita sekarang yang penuh dengan beragam gaya hidup. Kita, terkadang merasakan sangat sibuk dengan agenda-agenda yang mesti dilalui. Rapat, menyusun program, tugas-tugas yang belum terselesaikan, ketemu orang ini dan itu, dan sebagainya. Semua dilalui dengan penuh percaya diri bahwa itu semua akan membawa manfaat di kemudian hari. Sayangnya, sedikit dari kita yang memikirkan bahwa kesibukan-kesibukan tersebut benar-benar membawa manfaat bagi diri kita. Sayangnya lagi, ada diantara kita yang menjalani kesibukan itu karena perintah orang lain tanpa tahu tujuan sebenarnya.
Apa yang kita rasakan saat itu semua yang terjadi? Jenuh! Ya, kejenuhan akan menyelimuti kita yang menjalankan berbagai aktivitas tanpa tahu tujuan ataupun manfaat yang akan didapat. Kejenuhan itu pula yang kadang menimbulkan berbagai penyakit hinggap di diri kita. Kejenuhan itu pula yang kadang menjadikan kita jauh dari seseorang, bahkan dari Allah SWT. Na’udzubillah
Bersyukurlah, karena hingga saat ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk merubah itu semua. Allah masih memberikan kita kesempatan untuk melakukan yang terbaik bagi diri kita dan orang lain. Bukankah Rasul mengatakan “Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”?. Jadi, untuk apa kita mesti berpikir ulang terhadap kegiatan-kegiatan tidak produktif yang telah menghabiskan waktu kita tersebut? Untuk apa pula kita ragu untuk meninggalkannya? Pegang dadamu sebentar, saudara. Disitulah letak keyakinan dan keraguan muncul disitulah letak seseorang bisa menjadi sukses ataupun hancur. Pegang dadamu dan tepuklah, katakan “AKU HARUS PRODUKTIF! TAK ADA KESEMPATAN UNTUK MAIN-MAIN DENGAN WAKTU YANG ADA! AKU PASTI BISA SELALU PRODUKTIF! AKU PASTI BISA MENJADI ORANG YANG BANYAK MEMBERIKAN MANFAAT! ALLAH BERSAMAKU!! ALLAHU AKBAR!!!”
Sudah saatnya kita sadar bahwa, kegiatan-kegiatan positif yang kita lakukan akan memberikan manfaat yang begitu besar bagi diri kita di masa depan. Meninggalkan kebiasaan yang ada memang tidak mudah, tapi akan lebih tidak mudah lagi jika kita selalu melakukan kesia-siaan. Benar bukan? Percayalah, Allah bersama orang-orang yang sabar, sahabatku ^_^
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah SHALAT dan SABAR sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqaarah: 153)

Baca Selengkapnya......

Rabu, 25 Mei 2011

Menjadi Seorang Kurir

Kali ini, mari kita sedikit telusuri kehidupan seorang pengantar barang (baca: kurir). Jum’at, 20 Mei 2011, Alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk “touring” ke beberapa perusahaan, untuk nganter pesanan-pesanan barang mereka. Mas Pri, pemegang amanah untuk mengantarkan pesanan barang-barang dari TPK ke customer, ngajak saya karena merasa kesulitan kalau pergi sendiri. Leader TPK pun enggak keberatan, ya Okelah. Hehe
Hmm…
Saya yang ngendarain Honda GL Pro, Mas Pri yang pegang barang di belakang. Karena saya enggak familiar dengan Tangerang, ya terpaksa Mas Pri teriak-teriak dari belakang ngarahin jalanan biar gak nyasar. Hehe. Di tengah-tengah jalanan Tangerang yang penuh debu, berisik, banyak polisi, petugas pelebaran jalan, cones pembatas jalan, saya sempatkan bertanya ke Mas Pri mengenai apa-apa yang saya liat. Hitung-hitung, yang didapat dari perjalanan jadi banyak ^_^
Kalau enggak salah, perusahaan pertama yang dituju PT Delifood (produsen mie gelas, anak perusahaan Mayora). Perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampe ke sini, padahal kalau jalanan sepi, 10 menit juga cukup. Saya kira, kalau kurir antar barang itu hanya meletakkan barang di perusahaan dan, pergi. Ternyata tidak, ckckck. Di sini ada beberapa prosedur yang mesti dilewati. Yaa, sekitar 20 menit selesai lah urusan, dan bisa jalan ke perusahaan selanjutnya. Kali ini PT Sapta Warna, sekitar 10 menit dari PT Delifood. Prosedur disini, simple sekali. Ketemu security untuk izin, bawa barang ke kantor purchasingnya, dah selesai dengan membawa beberapa lembar kertas. Hehe
Lanjut, perusahaan selanjutnya ada di Ps. Kemis. Mas Pri ngarahin saya untuk terus ngikuti jalan yang dimaksud. 10 menit, 20 menit, 30 menit, belum juga nemu tulisan Ps. Kemis, eh Mas Pri nya tidur diatas motor. Mau tau cara bangunin orang yang tidur di atas motor saat kita yang ngendarain? Rem mendadak! Bangun dah tuh, Hehe. Setelah ditotal, kira-kira perlu 40 menitan untuk sampe ke lokasi ini, PT Clipsal (Produsen pipa paralon). Perjalanan yang jauh itu, ternyata berbanding terbalik dengan prosedur yang ditemui. 5 menit, selesai! Dan kita pun bisa pulang. Waw wah, hehe
“Pak, masih ada satu lagi nih. Tapi alamatnya g jelas. Gimana ya?” Celetuk Mas Pri tiba-tiba.
“Oh, 1 lagi ya Mas. Hehe. Y owes, kemana kita. Arahin aja.” Jawab saya
“G ngerti Pak, tapi yang jelas kita tetap ke jalur pulang aja. Soalnya saya yakin disana. Disini cuma ada tulisan Gembor Priuk”
“Dimana tuh?”
“Terus aja Pak.”
1200 detik kemudian, “Mas, gimana nih, mesti kemana? Orang-orang yang ditanya kok pada g tau. Ckck” saya memulai pembicaraan, hehe.
“Iya Pak, pulang aja yuk”
“Walah mas nih, tanggung nih. Ya dah, tuh ad Pak Parkir. Tanya bentar aja ya. Soalnya tanggung bener kalo pulang. Tinggal 1 ni lagi kok.”
GL Pro diarahkan ke Pak Parkir yang ada sekitar 50 meter di depan kami.
“Pak, PT Calindo itu dimana ya? Kalau berdasarkan alamat ini, ada di sekitar sini Pak. Tapi, beberapa orang yang ditanya pada g tau Pak.”
“Oh, bapak lurus aja. Nanti dia ada di depan Arwana.”
“Bener Pak? Oke oke oke, Makasih Pak, hehe”
Bag big bug, plok plok plok, zzzzzzz, tong tong tong, akhirnya semuanya selesai. 20 menit kemudian, kami pun sampai di TPK Tangerang.
Hehehe, apa yang kami incar setibanya disini? AIR MINUUM. Hehe

Ntah, ini cerita apaan hahaha. Tapi, hikmahnya:
1. Kurir, bukanlah pekerjaan mudah
2. Permudahlah kerja kurir dengan member alamat yang lengkap, disertai no telp yang bisa dihubungi
3. ^_^, kalau jadi orang itu yang sabar. Sabar, dengan mencantumkan alamat dan no telp tujuan. Sabar, mengantarkan barang ditengah teriknya matahari. Sabar, jika ternyata alamat yang dicari belum ketemu. Satu lagi, sabar jika g ada uang tip nya. Haha, yang ini canda. Hehe

Oke, jika ada waktu, sempatkan untuk mencoba beberapa profesi untuk menemukan nilai-nilai yang tidak ditemukan dengan hanya “MELIHAT, MENDENGAR, MEMBACA, DAN BERPENDAPAT”

Sukses ya ^_^

Kebayoran Lama, Jakarta
25 Mei 2011, 22.30

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 05 Maret 2011

How I Learned to Love the God*

by: Untung Wibowo

I once read an article about an Indonesian Moslem who studied at overseas. At the first time he arrived to the country, he met a native asking "what good a Moslem is? You just bunch of terrorist?" Since he cannot speak a proper English at that time, He only replied “just wait, a year from now I’ll explain to you the beauty of Islam”.

A year had past and the man now can speak good English, he searched for the native to give his promise to explain about Islam. After he found the native, the man got shock because now the native had beard and welcomed him with “Assalamualikum”. The ask “how could you?”...”be a Moslem?” cut the native. “After hearing your replay to my question, I started to learn about Islam to find out what beauties that exist in such religion, than after learning about Islam I learned to like it and decided to be one of it.

The moral of the story said the writer is “be careful with what you say because God Guidance for others might come through your mouth”. Okay here’s the thing, when I read the article I was wasn’t a religious type of person. So when I read it I could only said “yeah right man? Seems more to folklore than a story, there won’t be any such such thing like that”.

One and half a year after I read it, I realized that there were truth in that article. And this is my story how I learned to love The God.
After breaking up from years of serious relationship, everything that wise just seems so enlighten for me. One of the words is from a man that act so wise who said ”Everything has its own properness, a nice man gets a nice girl and vice versa. So if you like to get a nice girl make yourself nice”.

With a deep tone voice, those words seem so logic for me. Hence, I deliberately searched what quality that I have to acquire to make me proper getting a girl that I really want. I phoned every (or used to) close friends of mine to know what was my strength and room of improvement. I opened the phone with “Hey could you help me to find out my strength and room of improvement”. By asking those questions, I often got a weird replay tone of voice. It sounded that they were afraid if the breakup would breaking up my brain also.

One of them, Merry, said to me “what the hell is happening to you? Getting yourself a SWOT analysis taken all of sudden? I replayed, “Nei, I’ve just got an epiphany Mer, we don’t have to use our time to search for our other half, we just have to prepare our self for it”.

“Oh dear God why don’t you just go to Remaja Islam Sunda Kelapa or RISKA than” said Merry.

“Me? Join what, say it again? You’re kidding me? I’m not that type. What would you like me do there? Having a 5cm beard?

Huhuhahahahahahaha…. we were laughing so hard together at that night.

But some things happened on the following days that 5 words, RISKA, keep attaching in my head. So I search through the web about RISKA and found out that its located in Menteng. After sightseeing the web, I decided to come and saw what the place all about was.

I met Bang Ilham and Bang Eko C at that time. I found that they were different from what I imagined before. I introduce myself and in what manner I come there, learning to read Al-Quran. They said “okay, that’s good”. Don’t want this kind of feeling gone away so quickly, beside learning to read Al-Quran-I joined their closest available class which is a vocal courses (imagined that, never I had myself on that shoes before I) taught by Bang Charles from GSN quire. 4 months later I joined SDTNI and now having DK or Liqo with Bang Ryan. Honestly, because one thing or another I couldn’t come to the meeting regularly but still I got so many things from it.
It has been 10 months since I joined RISKA, I’ve never watched the show from a man who said about properness again but through these months activity in RISKA:

I learned to read Al-Quran.
I found that peaceful sensation that many people talk while or after reading Al-Quran.
I knew the felling of having yourself surrounding with faith full people.
I understand Islam better than before and because of it my love towards it increases every time.

By Interacting with its people, having friends, signing up to their event such as giving charity to the poor, presenting a monologue (imagined that, never I had myself on that shoes before II) I’m getting a better understanding of myself and others.

And finally because things that I’ve mentioned before, now I learned to love Allah SWT.

I’m not saying my story is 100% same with the story I mentioned at the first place, but If Merry never had told me about RISKA would I experience all of such thing? We will never know to whom Allah SWT give his guidance. Therefore, let’s select our word wisely we will never imagine what goodness that might come from it.

*Modified from Jeese Custer – The Preacher, comics by Vertigo.

Salam Hangat dari Menteng,

PENDAFTARAN ANGGOTA BARU RISKA
Februari - Maret 2011
CP : Putra (089 997 646 26), Fajar (08 567 707 007)

Remaja Islam Sunda Kelapa - RISKA , remaja islam yang punya gaya
Sekretariat:
Jl. Taman Sunda Kelapa #16
Menteng, Jakarta Pusat 10310
telp. 021 3190 5839
fax. 021 3989 9710
email: remajaislamsundakelapa[at]gmail.com
website: www.riska.or.id
SMS Center : 0899 8947 348
YM ID : remajaislamsundakelapa2
Skype ID : remajaislamsundakelapa

ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum selama kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri....[QS Ar Ra'ad 13 : 11]

Jika cerita ini bermanfaat bagimu, mari kita share dengan mengklik "Share" di kanan atas blog ini, untuk membagikan manfaat bagi orang lain.
^_^

Baca Selengkapnya......

Rabu, 02 Maret 2011

Kita Semua Bersaudara

By: Lis Kurniah



Kalimat yang begitu menggugah, kalimat inilah yang menjadi motivasi awalku untuk memantapkan niat dalam mendekatkan diri ke Allah SWT dengan mengkaji lagi agama yang Ia turunkan lewat kekasih pilihan-Nya, Rosulullah Nabi Muhammad SAW, di RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa). Tempat yang pada masa SMA hanya sebagai tempat kongkow-kongkow bersama teman menghabiskan tongseng yang kelezatannya cukup terkenal ditambah dengan segarnya es kelapa muda, membuat kami sering mondar mandir ke sini.

Kalimat itu kudengar pertama kali dari seorang mentor yang mewawancaraiku, Novita Sari yang lebih dekatnya minta dipanggil “Mbak Sari”, senyumnya yang khas menghpaus letihku yang sudah tiga kali keliling masjid hanya untuk mencari sekretariat RISKA. He.. he.. kesan pertama yang memalukan, gara-gara malu bertanya, jadi “cape’ deh…”, lah wong Mbak Sari aja sampai tertawa kecil saat kuceritakan perjuanganku menemukan sekretariat RISKA.

Alhamdulillah, saat pertama menginjakan sekretariat, aku disambut hangat oleh pengurus yang ada di sana. Semuanya sangat ramah, padahal tak satu pun yang aku kenal. Baik wanita maupun prianya, semua memberikan senyum yang sangat hangat. Walau di sini tidak semua wanitanya berjilbab namun nilai Islam sepertinya jadi bagian dari diri mereka. Mbak Eva pengurus yang saat itu bertugas piket langsung memberikan tangan kanannya kepadaku, “hei.. Wa’alaikum salam.., aku Eva, selamat datang di RISKA…” aku pun menyambut jabatan tangannya, “Aku Lis dan ini Evi, kami ingin bergabung di RISKA, bagaimana caranya ya…?”, “Mudah ko’ yang jelas ga’ sesulit ujian di kampus, he.. he.., silahkan duduk dulu.. biar ngobrolnya lebih enak…” candanya mencairkan kegrogianku, baru aja ketemu tapi rasanya seperti sudah kenal lama ,(“kesan pertama yang cukup menggoda…, hus.. kaya’ iklan parfum aja…!!” ) aku bergumam dalam hati.

Mbak Eva menjelaskan panjang lebar tentang RISKA, ga’ semuanya aku bisa ngerti. Namun karena cara menjelaskannya yang asyik, aku enjoy aja mendengarkan, seperti tidak sedang mendengarkan orang yang presentasi, karena beberapa kali dia menyelipkan canda kecil yang kadang ditimpali oleh teman-teman lain, yang kalo ga’ salah seingatku di situ ada Bang Anto, Bang Kadir, Mbak Narti dan mbak Yessi. Setelah selesai, bertanyalah ia padaku, “So.. mbak Lis dan mbak Evi mau ikut yang mana nih…?”, belum aku jawab, mbak Yessi sudah menambahi, “SDTNI aja.. mbak Lis.. baru mau mulai sabtu besok, kalo yang lain sudah kelewat, kan rugi ketinggalan materi yang seru-seru”. Ko aku dipanggil mbak, aku kan baru lulus SMU 2 tahun lalu. Mbak Yesi menjawab, “Di Riska memang panggilan Mbak & Abang jadi panggilan resmi di sini, yang kadang tidak berdasarkan usia, tapi sebagai penghormatan kami”, aku jawab sambil bingung, “Tapi kenapa mbak dan Abang? Bukan biasanya Mbak itu pasangannya Mas?”. Mbak Narti meluruskan, “Itulah keunikan RISKA yang ga’ ditemui dimanapun, kalo di kampus atau di sekolah biasanya kan panggil Kaka’, kalo di sini Mbak & Abang. Ga’ peduli asal daerahnya dari mana, Sunda, Betawi, Padang atau Jawa, tetap aja… yang wanita dipanggil ‘mbak’ dan prianya ‘abang’!” aku masih bingung, “hanya karena alasan keunikan semata?”. Tiba –tiba dari belakang ada yang menambahi, “ada satu alasan lagi Lis, yaitu : KARENA KITA SEMUA BERSAUDARA, Assalamu’alaikum.. kenalkan nama saya Novita Sari, biasa dipanggil dengan Mbak Sari” mbak Eva yang dari tadi sibuk menyiapkan formulir menoleh, “Alhamdulillah ada mbak Sari, Mbak Lis dan Mbak Evi langsung wawancara aja ya dengan mbak Sari”, mbak Sari lebih dulu menjawab, “Boleh, dengan senang hati, jarang-jarang loh bisa mewawancarai saya, sambil senyum manis” aku bingung, “Aku wawancarai mbak Sari…?” mbak Eva tertawa kecil, “Mbak Sari.. mbak Sari.. lihat tuh mbak Lis-nya bingung. Bukan mbak Lis ko’ yang mewawancarai, tapi mbak sari yang mewawancarai mbak Lis dan mbak Evi”. Mbak Sari senyum kecil lagi, “Afwan ya Lis.. mbak Sari becanda…..”, aku balas candanya, “ga papa mbak.. aku malah yang ga’ enak, diwawancarai, serasa jadi selebritis…! He.. he..?” kami semua tertawa kecil. Setelah mbak Eva mengurus masalah administratif, Mbak Sari mengajak aku dan mbak Evi ke teras masjid.

Proses wawancara berjalan lancar, sepanjang wawancara ku lihat senyum hangatnya. Ku jawab semua pertanyaan demi pertanyaan yang ia lontarkan. Sedikitpun ia tidak mengomentari penampilanku yang saat itu masih telanjang kepala, he.. he.. maksudnya belum berhijab. Saat terakhir, dia minta gantian aku yang bertanya. Kutanyakan, “Apa maksud kalimat yang mbak lontarkan tadi, ‘KARENA KITA SEMUA BERSAUDARA’. Bukankah kitak tidak ada hubungan darah, sanak famili atau kerabat. Kenal juga baru hari ini.”.

Sebelum menjawab pertanyaanku, dia membalas dengan senyuman  sambil sedikit mengerutkan dahi, “Baru kali ini ketemu peserta wawancara yang pertanyaannya tidak ada hubungannya dengan RISKA atau departemen yang diikuti. Tapi ga’ papa, insya Allah saya jawab. Lis coba buka Surat Ali Imran (3) : 103, bisa baca Al Qur’an kan.. baca ayatnya lalu dilanjutkan dengan terjemahannya.” Aku mengikuti arahannya, kubaca Al Qur’an yang ia sodorkan padaku, yang terjemahannya berbunyi :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Aku coba menyimak maksud dari ayat Al Qur’an yang baru saja aku baca, kupandang satu kalimat dalam terjemahan yang mana kalimat itu mungkin menjadi kunci dari jawaban pertanyaanku. Namun saat itu pemahamanku belum sampai untuk dapat menarik kesimpulan, apa maksud dari ayat yang kubaca. Ku tatap wajah mbak Sari dengan aura penuh kebingungan. Lalu kutanya, “Apa maksudnya mbak?”. Sekali lagi dia tersenyum, bukan karena ketidak pahamanku ia meleparkan senyum, melainkan karena kurasakan pancaran kasih dan sayang yang keluar dari matanya yang jernih dibalik sebuah kacamata. Kuberkata dalam hati, “Ya Allah bagaimana aku bisa merasakan kasih sayangnya, padahal kami baru bertemu, apakah ini bagian dari petunjuk-Mu padaku akan isyarat tepatnya langkahku?”. Lamunanku terpecah saat ia berdehem, “Ko’ ngelamun… mau dijawab ga’? “Mbak.. ngagetin, ya mau lah… dari tadi juga aku nungguin, mbak-nya malah senyum aja” “he.. he.. “ kami berdua tertawa.

Mbak Sari pun mulai menjelaskan padaku, mungkin tidak lengkap seperti apa yang ia jelaskan dengan yang aku tuliskan saat ini, seingatku ia menjelaskan, “ Inilah salah satu kelebihan Islam, saat Allah menaburkan hidayah-hidayah melalui beraneka jalan, lalu mahluknya menangkap serta merangkulnya, terselimutilah semua dalam kehangatan sebuah Ukhuwah (persaudaraan). Nah dalam ayat tadi disampaikan “berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah”, itu sebuah ilustrasi bagi semua yang berusaha kembali berpegang pada Islam. Seperti apa yang Lis lakukan saat ini. “Loh, aku kan Cuma daftar SDTNI aja…, apa hubunganya?” Lagi-lagi dia tersenyum sebelum menjelaskan padaku, aku bingung campur sedih, kenapa aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, sebelum mbak Sari menjawab, aku selak dengan komentar, “Maafin aku mbak… kebanyakan nanya, aku begitu semangat mau belajar, semakin aku belajar semakin aku merasa bodoh, makanya aku nanya sama mbak…”, dia manjawab “Ko’ minta ma’af.. tidak ada yang perlu dimaafkan, semua masih pada batas kewajaran. Mbak Sari malah seneng ketemu peserta yang semangat seperti Lis.” Dia melanjutkan penjelasan sambil melukiskan senyum di wajahnya.

"SDTNI memang bukan hal yang luar biasa Lis.., namun bila Lis mengikuti proses SDTNI dengan baik, banyak hal luar biasa yang dapat Lis peroleh nanti. Nah salah satu diantaranya, nikmat Allah dalam wujud ukhuwah. Ukhuwah Islam bukan hanya sekedar ikatan karena pertalian darah, kekerabatan ataupun sekedar pertemanan biasa. karena apa? karena Allah yang mempersatukan hatimu, setelah sebelumnya mungkin tanpa kita sadari dengan bekal kejahiliyaan kita saling bermusuhan atau mungkin lebih tepatnya kita tidak saling peduli padahal kita sebenarnya bersaudara, saudara se Islam. Dalam menjalani kehidupan ini kita seperti berada pada jurang neraka, dan yang bisa menyelamatkan kita ya saudara seIslam di sekeliling kita, yang senantiasa menasihati kita dalam kebenaran dan kesabaran. Menyeru yang haq dan mencegah kita saat kita akan melakukan suatu kesalahan, baik disengaja maupun khilaf". Aku tercengang dengan pejelasan itu, Ya Allah... kemana saja aku selama ini, kenapa baru kali ini aku sadari. Inilah Islam yang aku cari. Walau sejak lahir aku jadikan label agama, tak kurasakan seperti hari ini. Hatiku benar-benar bergetar mendengar penjelasan mbak Sari. Bukan karena mbak Sari-nya, tapi pada apa yang ia jelaskan, yang dulu sedikitpun tak pernah jadi perhatianku.

“Hei.. ko’ ngelamun lagi, mikirn apa Lis? Atau masih bingung dengan penjelasan mbak tadi?”. Aku senyum dan tertawa kecil sendiri, kutatap wajah mbak Sari yang kebingungan melihat tingkahku. “He.. he.., bodohnya aku ya mbak…!”, “ Loh… ditanya apa, jawabnya apa, sambil ketawa gitu… kamu baik-baik aja kan Lis..?!” komentar mbak Sari keheranan melihat aksiku. Sebelum kujawab kucoba tuk tenangkan diri dengan mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan, sambil kuberikan senyum puasku  kujawab segala kebingungannya “ Insya Allah aku baik-baik aja mbak, makasih ya…” kulihat mbak Sari mengkerutkan keningnya, “untuk..??” kujawab dengan spontan “ya… segala penjelasan mbak tadi. Juga atas sikap ramah, senyum manis dan keakraban ini”. “Sepertinya aku makin mantap dan mulai betah nih di RISKA, ngomong-ngomong… semua anak RISKA seperti mbak ga?” lagi-lagi mbak Sari tergeleng-geleng dengan pertanyaanku.

“Lis.. coba lihat pohon-pohon di taman, bagaimana jadinya bila semua pohon sama, baik jenis, besar, bentuk, warna dan semuanya. Apa jadinya Lis?” kupandang taman dan kupandang pula wajah mbak Sari lalu kujawab, “Jadi kebun, bukan taman lagi. Yang pasti ga’ seindah seperti sekarang”. “Nah.. begitupun manusia, Allah SWT menciptakan kita beraneka ragam. Dan saat keanekaragaman ini berkumpul hidup rukun, akan memperindah diri dan sekitarnya. Islam membawa nilai-nilai yang begitu mulia yang bila manusia menjadikannya landasan dalam menjalani hidup ini, seluruh penjuru bumi bisa hidup rukun dan damai. Karena apa? Karena Islam rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Apalagi Cuma lingkup RISKA yang sangat kecil ini. Keanekaragaman anggotanya membuat RISKA begitu indah, karena kami mencoba menjadikan Islam sebagai landasan hidup ini. Ya.. tentunya dengan aneka proses yang berbeda”. Gantian aku yang mengkerutkan kening, “Proses apa mbak..?!”. “Proses kedewasaan dalam memahami Islam ini, nanti Lis juga akan melewati proses demi proses tersebut”.

Sejujurnya aku masih binung, namun aku ga tega menyerbu mbak Sari dengan pertanyaan lagi, pastinya dia cape’ ngejawabnya. Aku berikan ia senyuman puas  . “Gimana… ada lagi yang mau ditanya? Ga mau nanya soal RISKA atau SDTNI nih..?”, aku menggeleng, “Engga’ mbak…! Saya percaya, RISKA lah yang selama ini saya cari”.

Ya.. inilah sekelumit kisah seorang riskader. Kesan pertama yang begitu menggoda, selanjutnya kisah tadi menjadi sebuah kenangan. Untuk Mbak Sari yang saat ini entah ada di mana. Terima kasih telah menjadi cermin pertamaku yang luar biasa. Beliau seorang mentor yang hebat, figurnya menghapuskan brand penilaian-ku yang negative untuk para “akhwat”, yang menurutku begitu eksklusive, suka merendahkan orang hanya dari penampilan dan merasa diri sok suci serta benar sendiri. Beliau mentor SDIS(SBM) yang begitu disegani dan dicintai. Walau diri ini tak pernah mendapatkan mentoring darinya, tapi nilai-nilai yang ia berikan dan contohkan lebih dari segala materi mentoring yang pernah kudapat. Dia juga yang menjadi salah satu motivasiku untuk memberanikan diri menjadi mentor. Walau sadar dari segi kelayakan, diri ini belumlah layak.

Tapi satu dari rangkaian cita-citaku, yang terbersit di salah satu obrolan lepasku ba’da dk perkuliahan dengan mentor berbeda, “mbak ko’ mau-mauan sih jadi mentor, emang dibayar berapa?” , dia lagi-lagi tersenyum dan sedikit tertawa, lalu dengan sabar menjelaskan, “banyak Lis, banyak banget. Mbak dibayar dengan rasa tenang dan damai dalam hati ini. Terus rasa bahagia dengan bertemu orang-orang seperti Lis, terus masih banyak lagi yang ga bisa disebutkan dengan kata-kata. Tapi yang paling utama adalah bayaran Allah di surga kelak, insya allah diizinkan bertemu dengan-Nya, amiinn”.

Baru saat itu kusadari, betapa mulianya hati para mentor ini, mereka tidak mencari tujuan yang sifatnya materiil, melainkan lillahi ta’ala. Dari situlah aku mulai berani bercita-cita, “Semoga kelak aku bisa menjadi mentor seperti mbak ya…, mungkin ga’ sih mbak.. orang sepertiku ini bias jadi mentor?”. “Ga ada yang ga’ mungkin Lis, apalagi untuk sebuah cita-cita yang baik seperti itu. Semoga suatu saat Lis bisa berada dalam barisan mentor RISKA ya…” Sambila tertawa ga percaya, aku jawab, “amiiinnn, he.. he… mimpi…kali ye..!!”

Semoga sekelumit kisah pendek ini bermanfaat bagi yang membaca dan juga dapat menambah timbangan pahala kelak di yaumil hisab untuk para mentor-mentor RISKA terdahulu-sekarang dan nanti, insya Allah perjuangan ini tak kan kenal henti. Kecuali dengan kematian dan takdir yang Allah SWT tetapkan, amiin.


Salam Hangat dari Menteng,


Pendaftaran Anggota Baru RISKA
Februari - Maret 2011
CP : Putra (089 997 646 26), Fajar (08 567 707 007)

Remaja Islam Sunda Kelapa - RISKA , remaja islam yang punya gaya
Sekretariat:
Jl. Taman Sunda Kelapa #16
Menteng, Jakarta Pusat 10310
telp. 021 3190 5839
fax. 021 3989 9710
email: remajaislamsundakelapa[at]gmail.com
website: www.riska.or.id
SMS Center : 0899 8947 348
YM ID : remajaislamsundakelapa2
Skype ID : remajaislamsundakelapa

ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum selama kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri....[QS Ar Ra'ad 13 : 11]

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 22 Januari 2011

3 MACAM MOTIF DALAM BERTINDAK

Bismillaah

Dalam mengerjakan sesuatu, setiap makhluk hidup selalu punya alasan atau motif yang berbeda-beda. Hasil tindakannya pun beragam karena dilandasi atas motif yang beragam pula. Secara keseluruhan, motif-motif tersebut dapat dibagi dalam 3 kelompok, diantaranya:

1.Motif Materi
Dengan dorongan dari motif ini, seseorang akan melakukan sesuatu karena adanya sesuatu yang akan ia peroleh seperti imbalan, barang, dan sebagainya. Sadar ataupun tidak, jika motif materi ini menjadi sesuatu yang sangat menonjol dalam segala tindakan kita maka kesulitan-kesulitan pun akan kita temui. Segala macam cara akan dihalalkan agar ia memeroleh imbalan ataupun hasil yang diinginkan. Salah satu tindakan terlarang yang sangat terkenal dalam kehidupan kita adalah korupsi. Sebaiknya, motif materi tidak dijadikan sebagai motif paling utama dalam pekerjaan kita. Banyak hal yang mesti diperhitungkan selain materi seperti manfaat, silaturahim, pengetahuan dan wawasan. Jika motif materi ditempatkan dengan benar, insyaAllah banyak manfaat yang akan kita peroleh.

2.Motif Emosi
Motif ini mampu menjadikan seseorang bergerak tanpa memedulikan imbalan yang ia dapat. Banyak contoh yang bisa dilihat di lingkungan kita seperti para guru-guru yang mengajar di daerah terpencil, seorang, suporter sepakbola, anggota dalam sebuah kelompok dan sebagainya. Memang, kita tidak dapat mengidentifikasi apakah seseorang bergerak karena motif emosi atau bukan. Tapi, jika motif ini diutamakan maka akan timbul sebuah masalah yang cukup berarti. Masalah tersebut sering kita ucapkan seperti “lagi g mood”, “lagi males”, dan lainnya.

3.Motif Rohani
Seseorang yang bergerak dengan motif ini akan mampu menjaga kekonsistenannya dalam melakukan suatu hal. Ia pun mampu menjadikan motif materi dan emosi dibawah motif rohani. Ia bergerak karena keyakinannya bahwa setiap tindakan yang dilakukan pasti dilihat dan dinilai oleh Dzat yang Maha Melihat dan Mengetahui, Allah SWT. Banyak contoh mengenai hal ini baik di zaman Rasulullah maupun sekarang yang bisa ditiru. Motif ini menjadikan seseorang mampu berjuang diluar batas kemampuannya. Ia akan banyak membantu dalam perbaikan-perbaikan yang ada dan akhirnya kekuatan persaudaraan pun akan timbul. Dengan motif ini, kehidupan seseorang akan tenang, bahagia, dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. InsyaAllah

Sekarang, tinggal kita yang menetukan pilihan motif dalam setiap tindakan yang akan dilakukan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah agar mampu memilih sesuatu yang baik dan benar. Sehingga, saat hari perhitungan tiba, kita mampu mempertanggung jawabkan tindakan yang telah dilakukan dengan berbagai macam manfaat yang dihasilkan. Aamiin

Wallahua’lam

Baca Selengkapnya......

Kamis, 20 Januari 2011

YAKIN ITU DARI SINI

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Terkadang kita sering sekali termotivasi dengan sebuah kalimat, artikel, ataupun buku yang kita baca. Perasaan membuncah ketika menemukan sesuatu yang sesuai dengan kondisi atau hal yang sedang terjadi pada diri kita. Ditambah lagi adanya teori-teori dari para pakar terdahulu maupun terbaru. Subhanallah.

Tapi, apakah kita pernah merasakan ketika teori-teori tersebut tidak mudah untuk dipraktekkan? Apakah kita menemui berbagai macam keraguan ketika menerapkannya di lapangan? Ataukah keringat dingin yang kita rasakan saat mencobanya? Semua itu adalah hal yang lazim dialami oleh manusia saat berada dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal tersebut bisa terjadi saat sebuah teori akan kita coba dalam keadaan formal seperti saat menjadi MC , pemateri, pemimpin ataupun juga dalam keadaan informal seperti berkenalan dengan orang baru dan sebagainya.

Salah satu analisa yang bisa dijadikan bahan pertimbangan adalah segala hal tersebut kemungkinan terjadi karena kurangnya pengalaman kita di lapangan. Memang, tidak sedikit orang yang membaca artikel dan akhirnya termotivasi namun belum berhasil saat ia menerapkannya. Tapi tidak sedikit pula orang yang mampu melakukannya dengan baik tanpa pernah mengetahui teori-teori yang ada. Hanya Allah yang tahu berapa jumlah manusia yang berhasil tanpa pernah tahu teori –teori yang kita dapat baik di jenjang pendidikan maupun dalam forum-forum lainnya.

Pepatah yang sering kita dengar, “bisa karena biasa”, tak boleh diremehkan. Itu adalah salah satu pepatah yang harus kita renungkan dalam hati dengan kesungguhan. Pada pepatah tersebut terdapat sebuah pendidikan mental yang bisa kita ambil. Keterbiasaan kita pada sesuatu menjadikan sesuatu tersebut menjadi hal biasa untuk dilakukan bagi kita. Tinggal kita yang memilih, apakah kita akan membiasakan pada hal yang baik atau hal yang buruk. Perlu kita ketahui bahwa jika sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan, maka tidak mudah untuk mengubahnya.

Dengan terbiasanya kita melakukan suatu hal, maka kita akan memperoleh keyakinan yang akan memandu diri kita untuk melaksanakannya dengan “mudah”. Hasil yang baik pun cenderung kita peroleh karena kita telah meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terjadinya kesalahan. Hal yang mungkin sulit dilakukan dan membutuhkan waktu bagi orang-orang yang baru pertama kali melakukannya. Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa salah satu penyebab timbulnya keyakinan pada diri seseorang adalah ia telah terbiasa melakukan hal tersebut.

Di sisi lain, tidak sedikit pula orang yang bisa melakukan banyak hal pada kesempatan pertamanya dengan baik. Ia berhasil mengungguli lawan-lawannya ataupun rasa takut yang ia hadapi. Keberhasilannya menghasilkan decah kagum orang-orang yang mengiringinya karena ia mampu mengalahkan rasa takut ataupun orang-orang yang berpengalaman. Rahasianya adalah ia yakin dengan kemampuan dirinya. Namun, hati-hati dengan keyakinan seperti ini. Jika keyakinan itu jauh meninggalkan keyakinannya pada Allah SWT, maka ia telah takabur dengan-Nya. Na’udzubillah.

Kita dilahirkan di muka bumi ini di perintahkan untuk selalu patuh dan taat kepada Allah SWT. Patuh dan taat tidak lahir begitu saja karena ia adalah kebiasaan yang telah dilatih oleh niat yang lurus dan tindakan nyata yang teratur. Selain itu, ilmu pengetahuan teoritis yang dimiliki pun akan sangat menunjang kekuatan keyakinan kita dalam menghadapi berbagai macam hal yang terjadi.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pengalaman di lapangan dalam mengerjakan berbagai macam hal dan didukung pengetahuan teoritis yang dimiliki, seseorang akan mampu meminimalisir kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan yang dimaksud bisa berupa keraguan yang timbul, perhitungan yang dilakukan, dan sebagainya. Selain itu, pondasi dasar yang utama harus kita miliki dibandingkan pengalaman maupun pengetahuan adalah keyakinan kita pada Allah SWT. Kita harus yakin bahwa segala hal akan terjadi hanya atas izin-Nya. Jangan pernah membatasi pikiran kita dengan pemikiran kita yang terbatas. Tapi, batasilah pemikiran kita dengan keyakinan pada Allah yang mengatur segala hal di muka bumi ini. Semoga kita menjadi orang yang optimis dalam menghadapi hidup karena keyakinan kita pada Allah Sang Pencipta Alam Semesta.

Wallahua’lam

Baca Selengkapnya......

Senin, 17 Januari 2011

ANTARA SI AMBISIUS DAN SI YAKIN

Dalam prakteknya, perbedaan antara ambisius dan keyakinan sangatlah tipis. Keduanya menampilkan hal yang hamper serupa seperti semangat bekerja, mengejar target-target dengan antusias, menyampaikan sesuatu tanpa ragu, dan bahkan melakukan pengorbanan yang terhitung besar. Namun dibalik itu, rasa ambisius dan keyakinan yang dimiliki manusia merupakan sesuatu yang jauh sekali berbeda. Perbedaan paling utama terletak dari value yang dipegang.

Seorang yang ambisius akan melakukan segala hal demi mencapai tujuan yang ia tetapkan. Ia tidak peduli berapa besar kerugian yang ia timbulkan bagi diri sendiri dan orang lain. Ia tidak peduli seberapa benar data ataupun fakta yang ia peroleh. Ia tidak peduli apakah hal itu akan saling memberikan manfaat atau tidak. Dan bahkan, ia tidak peduli apakah perbuatan tersebut tergolong dosa atau tidak.

Berbeda dengan orang yang ambisius, orang yang yakin akan melakukan segala hal asalkan sesuai dengan value yang ia pegang. Value yang dimaksud seperti semacam nilai yang membimbing hati kita untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan salah. Ia akan mengejar target-target yang ditetapkan tanpa mengurangi rasa keyakinan bahwa Allah SWT lah yang mengendalikan semua hal di muka bumi.

Hmm…

Saat ini begitu banyak hal rancu yang menjadikan kita tidak mengetahui secara jelas siapa itu si ambisius dan siapa itu si yakin. Semua itu terjadi karena hal-hal yang salah sudah menjadi sesuatu yang lazim dan membudaya pada diri sebagian manusia atau masyarakat. Nau’dzubillah. Selalulah berdoa agar yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil.

Banyak hal yang bisa dijadikan contoh, misalkan petugas survey (atau lainnya). Seperti kita ketahui, banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dan olah dengan adanya data yang mereka kumpulkan. Berbagai pengukuran bisa dikembangkan asalkan data itu valid and reliable. Untuk memperoleh data yang valid and reliable, harus diperoleh dengan cara yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, dipertanggungjawabkan kepada manusia dan tentunya Allah SWT. Bisa dibayangkan, jika data yang kita gunakan merupakan data palsu akibat si petugas survey melakukan kebohongan saat berada dilapangan. Kebohongan yang mungkin berdalih atas banyak hal seperti dikejar waktu, repot, banyak tugas lainnya, responden susah ditemukan, dituntut sama pimpinan setiap hari, dan lain sebagainya. Padahal, data yang kita berikan besar kemungkinan akan dijadikan bahan referensi oleh orang lain dan itu artinya, ia akan menjadi ilmu yang turun temurun hingga dilakukan survey selanjutnya. Luar biasa sekali, dimana sebagian orang menginginkan menyampaikan ilmu yang bermanfaat (benar) sebagai bentuk amal jariyahnya, ternyata ada orang yang menyampaikan ilmu yang tidak benar dan itu digunakan oleh banyak orang.

Astaghfirullah…

Sekali lagi, situasi saat ini memang menuntut kita untuk selalu memberikan yang terbaik, cepat, dan tepat sasaran. Namun, semua itu menjadi tidak berarti jika kita melakukan pembohongan atas dasar dalih-dalih yang berasal dari kesalahan kita sendiri. Okelah jika ternyata kita mendulang sukses dengan kebohongan itu atau kita mampu menyampaikan bahwa itu bukanlah suatu “kebohongan”, tapi itu tidak akan kekal. Ingatlah, ada masa dimana kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Yang Maha Melihat dan Mengetahui, yang Maha Membalas perbuatan baik dan buruk walaupun sebesar biji dzarrah, Allah SWT Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mari sama-sama kita hilangkan rasa ambisius yang pada dasarnya adalah sebuah keyakinan yang dipenuhi oleh hawa nafsu negatif sehingga kita menghalalkan segala cara. Mulailah beralih kepada keyakinan bahwa segala hal itu mungkin terjadi atas dasar keyakinan kita terhadap firman-firman yang telah Allah SWT sampaikan melalui Rasulnya. Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan dan dosa akan menjadi mulia tanpa ridha dari Allah SWT. Dan ridha Allah itu hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang selalu berbuat dan menyampaikan yang benar. Percayalah, segala sesuatu itu mungkin terjadi tanpa perlu kita menghalalkan segala cara. Percayalah, segala sesuatu itu akan terjadi jika itu sudah Allah takdirkan. Sesungguhnya, Allah telah menetapkan segala hal yang akan terjadi tanpa terlewat sedikitpun.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (Al-Qamar: 49).

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melaikan dengan ukuran (takdir) yang tertentu.” (Al-Hijr: 21).

“Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian melaikan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22).

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (At-Taghabun: 11).

“Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.” (Al-Isra’: 13).

“Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (At-Taubah: 51).

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59).

“Dan kalian tidak akan dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 29).

“Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (Al-Anbiya’: 101).

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’.” (Al-Kahfi: 39).

“Dan kami sekali-kali tidak akan mendapatkan petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Al-A’raaf: 43).

Wallahua’lam
Semoga diri ini terbebas dari perbuatan yang sia-sia. Aamiin

"Nothing is impossible"
InsyaAllah, ^_^

Baca Selengkapnya......

Minggu, 05 September 2010

Lanjut 2: Memandang dari sudut yang mungkin benar versi: ACHMAD PUTRA ANDHIKA ^_^

Bismillah

Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku.[i]

Benar, Indonesia adalah surga dunia! Berbagai macam kebutuhan sumber daya alam tersedia disini. Tak hanya itu, sumber daya manusia yang melimpah pun dapat disediakan di Indonesia. Satu lagi, kekayaan-kekayaan melimpah di Indonesia tersebut juga menciptakan kekayaan lainnya, orang yang tamak atau kita sebut saja si pembuat masalah.

Memang sudah menjadi fitrahnya di setiap sisi kehidupan selalu saja ada pembuat masalah. Dari sekian banyak pembuat masalah di Indonesia, yang lebih sering disorot adalah orang-orang yang memiliki wewenang besar dalam mengatur jalannya kehidupan negara, sebut saja Pemerintah. Semakin besar cakupan otoritas yang dipegang, semakin besar pula kebaikan ataupun kejelekan yang bisa ditimbulkan. Pemerintah tidak selalu membuat jumlah hal-hal negative lebih banyak dari yang positif, hanya saja setiap kepemimpinan baru (periode baru) diberikan bonus PR permasalahn dari kepemimpinan (periode) sebelumnya. Alangkah baiknya jika hal itu bisa diselesaikan, namun ternyata tidak semudah yang dikira. Seperti benih ikan air tawar yang diminta dikelola oleh si peternak sapi. Selalu butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal baru. Alhamdulillah, kita paham bahwa yang memerintah adalah kumpulan manusia yang fitrahnya tidak luput dari kebodohan dan kesalahan. Tapi, penduduk yang dipimpinpun merupakan sekumpulan manusia yang juga tidak luput dari kebodohan dan kesalahan. Sudah fitrahnya juga manusia tidak ingin dirugikan, oleh karena itulah selalu timbul tuntutann agar setiap permasalahan segera diselesaikan. Diselesaikan oleh siapa? Ya, siapa saja yang penting pemerintah. (Mungkin sebagian penduduk Indonesia bisa berpikir seperti itu. Tak tahu siapa yang harus menyelesaikan masalah. Hanya menuntut tak tahu arah)

Dengan kebebasan yang ada di Indonesia sejak reformasi terjadi, banyak sekali para sukarelawan yang menawarkan berbagai macam solusi-solusi atas permasalahan yang diciptakan pemerintah. Mulai dari forum, seminar, lokakarya, atau apapun itu, satu hal yang jelas, mereka ingin berkontribusi untuk menyelesaikan berbagai masalah pelik di Indonesia. Awalnya, setiap kebijakan yang dianggap merugikan sukarelawan tanggapi dengan kritikan dan penolakan. Namun, karena pemerintah tetap gigih dengan kebijakannya, kritik dan penolakan pun tak dihiraukan. Setelah kebijakan itu berjalan, timbullah masalah. Dengan lapang dada, beberapa anak bangsa (sukarelawan) menawarkan berbagai macam solusi atas permasalahan yang ditimbulkan. Ya, media massa pun mulai aktif mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai masalah terkait. Akhirnya, permasalahan tersebut mampu dijangkau oleh masyarakat di pelosok Indonesia, istilahnya Booming. 200 jutaan manusia mengetahuinya, dan 200 jutaan pula pemikiran yang muncul (Tak tahu yang berpendapat berapa saja usianya, paham atau tidak ). MasyaAllah, Sebuah potensi yang luar biasa sekali. (jika dimanfaatkan)

Sekali lagi, diterima atau tidaknya pendapat sukarelawan-sukarelawan ahli tersebut bukanlah hal besar jika ada saluran aspirasi yang benar. Tapi, bagaimana kondisinya saat ini? Saat ini yang sering kita lihat kan, mereka (sukarelawan) memberikan tanggapan di media-media massa. Pendengarnya pun jangkauannya se-Indonesia. Tapi, apa iya dengan jangkauan seluas itu semua benar-benar dapat mendengarnya dengan benar? Khususnya lagi, apa kita sudah pastikan pihak pemerintah yang dibicarakan disini memiliki Televisi, suka membaca Koran, bisa internetan, atau minimal bisa baca tulis dengan baik dan benar? Atau, hal yang paling penting adalah apakah mereka (pemerintah) sadar bahwa masalah-masalah yang ditanggapi di berbagai media massa tersebut adalah sebuah masalah (bagi Indonesia.)? (Kalau bagi mereka, ya tidak tahu)

Cukuplah
……………….

Sekarang kita lihat orang-orang baik yang telah bersedia menawarkan diri untuk memberikan kritik, saran, maupun lainnya atas setiap kebijakan pemerintah yang merugikan (baik yang sudah merugikan Indonesia >60 tahun ataupun yang baru berusia 1 minggu). Tak salah jika kita berterimakasih kepada mereka yang meluangkan waktu untuk menanggapi permasalahan pemerintah (bangsa Indonesia). Berkat mereka, wawasan kita pun bertambah, insyaAllah. Usaha keras media massa untuk menyiarkannya pun sepatutnya pulalah kita hargai. Tapi dibalik itu semua, satu hal yang sebenarnya harus ditanyakan pada diri sendiri, “apakah saya harus mendengar perkataannya?” atau bahasa lainnya “Apakah informasi ataupun saran yang diberikan merupakan saran yang benar? Apakah memang seperti itu permasalahannya? Benarkah?”, ya mungkin pendengar harus (belajar) menyeleksi.

Semua kritik dan saran hanya tepat sasaran apabila permasalahan yang dibahas memang benar kondisinya. Terlalu riskan jika kita mendengar dari orang yang mengira-ngira kondisi permasalahan yang terjadi. Sebisa mungkin, kita berusaha agar niat baik tetap menjadi baik hingga akhirnya.

Sekarang bagaimana jika pemerintah (bagaimana jika diasumsikan beberapa menteri pada posisi tertentu) yang dibicarakan disini melihat siaran media massa ataupun membaca Koran yang beredar mengenai permasalahan yang ada. Anggap saja kita punya masalah mengenai Freeport, Malaysia, Kebebasan pers, atau system pendidikan. Dengan seksama, mereka membaca ataupun mendengar media yang sedang ada dihadapannya. Dan pada akhirnya, mereka bersedih dan bergumam “Sahabatku, terimakasih karena telah mengritik kami. Kami senang mendengarnya. Saran yang kalian sampaikan pun sangat menarik dan patut dicoba. Tapi, bagaimana bisa kami mencobanya jika kondisi yang kalian bicarakan sebenarnya tidaklah seperti itu. Banyak kondisi yang kalian tidak tahu tapi kalian berani berasumsi tanpa menyebutkannya kepada pembaca/pendengar bahwa kalian berasumsi. Bukankah itu berbahaya? Banyak lagi kondisi yang kalian lupa bahas karena permasalahan ini terkait dengan hal lainnya. T_T”. ya, mungkin ada yang bergumam dalam hati begitu. Mungkin. ^_^

Jika ini benar, apa pendapatmu? ^_^

Bagaimana jika sekarang kita membahas mengenai sebuah kepemerintahan yang bersistemkan (salah satunya) transparansi? Atau jika sudah pernah dibahas (tentunya), sejauh mana hal itu dilakukan hingga sekarang? Oya, apa batasan transparansinya? Hmm… Dalam menyusun suatu hal usahakan agar berpegang teguh pada firman Allah, diantaranya:

“Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff 1-4)

Terakhir, apa peran kita dalam pencapaian hal ini? Sudah tepatkah sasaran kita?


Wallahua’lam

Bersambung…

[i] Perkataan Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi'in, ketika dia hendak memberikan fatwa

Baca Selengkapnya......

Kamis, 02 September 2010

MARI KITA SADARI BERSAMA ARAH KEBIJAKAN BANGSA INI (Memandang dari sudut yang mungkin benar versi: ACHMAD PUTRA ANDHIKA ^_^)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaykum wr.wb
Ba’da Tahmid dan Shalawat

Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku.[i]

"Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku? (Al-Qur’an, surat Al-Mu’min:5)

Akhir-akhir ini negara kita disibukkan oleh permasalahan bilateral dengan negara tetangga, Malaysia. Cukup banyak para analisis terkemuka di Indonesia memberikan gambaran, dampak, solusi, dan analisa-analisa lainnya. Begitu pula kondisi para mahasiswa, LSM, dan simpatisan lainnya yang masih memiliki jiwa nasionalisme tinggi ikut ambil andil dalam tindakan-tindakan membela harga diri Indonesia. Semakin terbakar pula semangat sebagian penduduk Indonesia atas masalah ini berkat peran media massa dalam menyebarkan berita. Baik itu berlebihan ataupun tidak, satu hal yang jelas adalah rakyat Indonesia tetap menganggap itu sebagai suatu masalah besar.

Rakyat Indonesia memiliki kebebasan dalam mengekspresikan berbagai macam permasalah yang ada, walaupun terkadang berlebihan, tapi
itulah arti kebebasan yang dipahami oleh sebagian rakyat ini, khususnya sebagian para pendemo. Mekanisme surat protes yang entah ada atau tidak, akhirnya menimbulkan keinisiatifan yang luar biasa. Alat komunikasi baru yang memiliki kemampuan tinggi dan cepat dalam menggaet respon dari yang diprotes pun ditemukan. Mulai dari Kerbau sampai lainnya. Ya mungkin, itulah arti kebebasan yang dipahami oleh sebagian dari mereka

Para wakil rakyat pun memiliki kebebasan dalam mengekspresikan masalah-masalah bangsa ini, ada yang memilih untuk menemukan solusi-solusi, ada yang memilih untuk menciptakan masalah baru, ataupun memilih untuk tidak hadir dalam rapat penyelesaian masalah karena tidak mau pusing. Saking bebasnya, ada sebagian yang memanfaatkan hak tubuh ini untuk istirahat di jam-jam berapapun. Ya, itulah mungkin arti kebebasan yang dipahami oleh sebagian orang dari perwakilan rakyat kita.

Lalu, Pemimpin negara ini pun mengekspresikan hatinya dengan berbagai macam cara pula. Ia mampu mengemukakan pendapat di depan anggota PBB lainnya, sehingga kitapun dipercaya sebagai salah satu anggota DK tidak tetap PBB beberapa saat lalu. Ia pun mengemukakan tentang kondisi perekonomian kita di hadapan para pemimpin negara-negara di dunia ini, hasilnya banyak investor percaya untuk menanamkan modalnya di negara ini. Lalu, ia pun mengemukakan bahwa dirinya menerima ancaman dari teroris, hasilnya adalah penangkapan salah satu tokoh Islam di Indonesia. Coba kita berpikir, informasinya itu dari siapa? Ya, dari mana saja boleh. Lalu, mengenai masalah bilateral antara 2 negara ini, dari dulu hingga sekarang, semenjak pengklaiman budaya hingga penangkapan penduduk Indonesia, solusi yang ada pun tergolong bebas. Kita bebas merasakan klaiman budaya kita oleh si tetangga, dan kita pun bebas ditangkapi oleh tetangga. Ya, Indonesia adalah negara bebas. Apapun bisa dilakukan disini. Mungkin, itulah sebagian pemahaman yang dianut oleh pemimpin-pemimpin kita.

Tak ada yang salah dengan arti kebebasan karena banyak hal positif yang bisa kita peroleh. Coba kita lihat beberapa perusahaan besar, diantaranya ada yang memberikan kebebasan kepada karyawan untuk berkreasi. Kebebasan ini menghasilkan tingkat keinovatifan karyawan yang begitu tinggi. Akhirnya, perusahaan pun menikmati penghematan jutaan dollar atas operasi usaha yang ada. Tapi, kebebasan mereka selalu terarah pada hal yang positif selalu. Bagaimana bisa? Ya, sangat bisa. Karena selalu ada pengakuan, penghormatan, dan penghargaan atas jerih payah mereka yang bermanfaat. Lalu bagaimana caranya Indonesia bisa mengimplementasikan system perusahaan seperti itu? Silahkan berpikir dan tolong tuangkan di comment-comment dibawah ini ….. ^_^
Semoga tulisan ini mampu mengajak kita berpikir dan menemukan solusi-solusi permasalah Indonesia terkait kebebasan yang dianut.

Wallahua'lam
Bersambung… (Diusahakan ya hehe…^_^)

Achmad Putra Andhika
^_^

[i] Perkataan Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi'in, ketika dia hendak memberikan fatwa

Baca Selengkapnya......